POTPOURRI

Menakar Misi Besar Andy Burnham, Sang PM Inggris ke-59

Dari anak buruh di Lancashire hingga julukan ‘King of the North’, Andy Burnham resmi menduduki kursi Perdana Menteri Inggris ke-59. Mengusung misi radikal untuk meruntuhkan dominasi London.

WWW.JERNIH.CO – ​ Dunia politik Britania Raya kembali menyaksikan perubahan besar. Setelah mundurnya Keir Starmer, Andy Burnham resmi ditunjuk sebagai Pemimpin Partai Buruh (Labour Party) dan melangkah ke Downing Street Nomor 10 sebagai Perdana Menteri Inggris ke-59.

Sosok yang dikenal dekat dengan masyarakat kelas pekerja ini membawa angin segar dan komitmen untuk merestrukturisasi politik Inggris pasca-era turbulensi.

Andrew Murray Burnham lahir pada 7 Januari 1970 di Aintree, Lancashire, Inggris. Ia tumbuh besar di kawasan Kulcheth, sebuah desa di dekat Warrington. Burnham lahir dari keluarga kelas pekerja yang solid—ayahnya adalah seorang insinyur telepon dan ibunya bekerja sebagai resepsionis.

Nilai-nilai kesederhanaan dan kerja keras dari keluarganya inilah yang kelak membentuk pandangan politik Burnham yang sangat berpihak pada rakyat biasa. Burnham menikah dengan Marie-France van Heel sejak tahun 2000 dan dikaruniai tiga orang anak.

Meskipun berasal dari latar belakang keluarga sederhana, Burnham memiliki rekam jejak akademis yang impresif. Ia menempuh pendidikan dasar di St Aelred’s Catholic High School di Newton-le-Willows. Kecerdasannya membawanya berhasil menembus salah satu universitas paling bergengsi di dunia, University of Cambridge. Di sana, ia belajar di Fitzwilliam College dan meraih gelar Master of Arts (MA) di bidang Sastra Inggris.

Sebelum terjun sepenuhnya sebagai politisi, Burnham sempat bekerja sebagai jurnalis untuk majalah transportasi. Karir politiknya di Partai Buruh dimulai dari bawah sebagai peneliti dan penasihat khusus bagi beberapa menteri era Tony Blair.

Lompatan besar karirnya terjadi melalui beberapa fase penting. Burnham pertama kali terpilih sebagai MP (anggot parlemen) untuk wilayah Leigh pada tahun 2001.

Di bawah pemerintahan PM Gordon Brown, ia dipercaya memegang posisi strategis sebagai Sekretaris Negara untuk Kebudayaan, Media, dan Olahraga (2008–2009) serta Sekretaris Negara untuk Kesehatan (2009–2010).

Burnham memilih bertarung di daerah dan sukses menjabat sebagai Walikota Greater Manchester selama hampir satu dekade (2017–2026). Di sinilah posisinya semakin kuat; ia mendapat julukan “King of the North” karena keberaniannya menentang kebijakan pemerintah pusat yang dinilai merugikan daerah selama pandemi global dan masalah transportasi.

Setelah memenangkan pemilu sela di Makerfield pada Juni 2026, posisinya di Partai Buruh melesat. Pada Juli 2026, ia terpilih menjadi Pemimpin Partai Buruh yang baru, yang otomatis mengantarkannya menjadi Perdana Menteri.

Sebagai PM baru, Burnham membawa misi besar yang disebutnya sebagai upaya “mengembalikan kontrol kepada komunitas lokal” dan membalikkan dampak buruk dari sentralisasi ekonomi sejak era Margaret Thatcher.

Misi utamanya meliputi:

  1. Devolusi Radikal (No.10 North): Burnham berkomitmen memindahkan sebagian operasional Downing Street ke Manchester dengan membuat kantor “No.10 North” agar kekuasaan tidak hanya berpusat di London.
  2. Nasionalisasi Utilitas Publik: Ia berencana mengembalikan pengelolaan utilitas penting (seperti air dan transportasi) ke bawah kepemilikan publik demi pelayanan yang lebih adil.
  3. Penyediaan Rumah Sosial: Menjanjikan pembangunan rumah-rumah dewan (council homes) generasi baru untuk mengatasi krisis tempat tinggal bagi warga kelas menengah ke bawah.

Berdasarkan data penyesuaian terbaru, total gaji gabungan seorang Perdana Menteri Inggris (yang terdiri dari gaji sebagai Anggota Parlemen dan gaji tambahan sebagai kepala pemerintahan) berkisar Rp 4,19 Miliar per tahun (atau setara dengan kurang lebih Rp 349,6 Juta per bulan).

Selain gaji yang besar, seorang PM Inggris berhak mendapatkan berbagai fasilitas mewah dan kedinasan, di antaranya;  Kediaman di 10 Downing Street sekaligus kantor utama di pusat kota London.

Ia juga memperoleh rumah peristirahatan mewah di pedesaan Buckinghamshire yang digunakan untuk menyambut tamu negara atau berlibur bersama keluarga.  Setelah lengser nanti, ia juga berhak mendapatkan tunjangan pensiun khusus hingga Rp 2,64 Miliar per tahun untuk mendanai aktivitas publik sisa hidupnya. (*)

BACA JUGA: Gagal Eksekusi Janji ‘Perubahan’, PM Inggris Keir Starmer Resmi Mengundurkan Diri

Back to top button