Solilokui

Metaverse?

Tapi, itu sebenarnya cuma gimmick pemasaran real-estate (obral murah lahan ibukota untuk investor). Atau cuma dalih bagi aparat pemerintah untuk menjustifikasi anggaran. Kecepatan internet kita, baik mobile maupun fixed-broadband, sangat lemot. Dalam peringkat dunia, 100 besar pun kita tak masuk. Dan di ASEAN, kita bahkan masih menyedihkan.

Oleh  : Farid Gaban

JERNIH– Dalam beberapa tahun terakhir, kata Metaverse dan Revolusi 4.0 seperti menjadi mantra ajaib.

Pejabat pemerintah, termasuk presiden, mengucapkannya dengan fasih. Memasarkan mati-matian ibukota baru, misalnya, Presiden Jokowi mengatakan Nusantara akan menjadi “kota masa depan”, lengkap dengan konsep smart-city dan smart-living, termasuk bus tanpa sopir.

Farid Gaban

Tapi, itu sebenarnya cuma gimmick pemasaran real-estate (obral murah lahan ibukota untuk investor). Atau cuma dalih bagi aparat pemerintah untuk menjustifikasi anggaran.

Kecepatan internet kita, baik mobile maupun fixed-broadband, sangat lemot. Dalam peringkat dunia, 100 besar pun kita tak masuk. Dan di ASEAN, kita bahkan masih menyedihkan. (Lihat Tabel).

Metaverse yang maya benar-benar masih maya (impian) bagi kita. Tapi, di sisi lain, menurut saya, inilah yang seharusnya menyadarkan kita pada prioritas pembangunan.

Kita mau mengejar impian jauh, yang kedengaran wah tapi keropos, atau mengurusi pertanian dan kelautan yang ada di depan mata?

Bukan berarti internet tidak penting. Yang kita butuhkan adalah membuat prioritas. [ ]

Back to top button