
PEMEX adalah NOC yang punya utang paling besar di dunia. Sampai Juni tahun 2025, utang PEMEX sekitar USD 100 miliar. Kedua, utilization rate dari enam kilang minyak (refinery) PEMEX yang kurang dari 60 persen. Hal ini jauh di bawah rata-rata utilization rate kilang di dunia yang di atas 90 persen. Penyebab rendahnya utilization rate adalah usia kilang yang sudah sangat tua (dibangun tahun 1970–1980-an) dan sering mengalami unplanned shutdown. Kesalahan ketiga adalah sumber daya manusia yang tidak ter-update dengan teknologi baru.
Oleh : Arcandra Tahar*
JERNIH–Dalam tulisan part 1 kita sudah membahas bagaimana strategi NOC seperti Saudi Aramco, ADNOC, Qatar Energy, Petronas, CNPC dan CNOOC dalam menghadapi masa transisi ini. Pendekatan teknokratik lebih mereka ke depankan daripada pendekatan militer dan politik karena inilah cara elegan yang tidak menimbulkan resistensi. Go international menjadi kunci keberhasilan strategi teknokratik ini.
Dalam tulisan part 2 ini kita akan membahas tentang NOC yang tidak mau go international dan sangat percaya diri dengan cadangan yang ada di dalam negeri. Salah satu contohnya adalah PEMEX Mexico.
Seperti yang kita tahu, sebelum tahun 2013, undang-undang energi Mexico melarang PEMEX untuk beroperasi dan memiliki aset eksplorasi dan eksploitasi (upstream) di luar negeri. Yang ada hanya beberapa aset trading dan marketing di luar negeri. Setelah tahun 2013, PEMEX baru punya fleksibiltas untuk melakukan ekspansi keluar negeri.
Keputusan politik yang melarang PEMEX untuk beroperasi di luar negeri sangat erat hubungannya dengan strategi pemerintah Mexico pada tahun 1938 yang menasionalisasi perusahaan minyak asing (International Oil Company–IOC) yang beroperasi di Mexico. Keputus-an ini didukung secara konstitusi yang diamandemen pada tahun 1938. Konstitusi itu mengatakan bahwa hydrocarbon adalah milik negara bukan swasta maupun perusahaan asing.
Dengan dasar konstitusi inilah PEMEX didirikan dalam rangka menjaga kedaulatan aset migas milik negara dan dilarang untuk melakukan kegiatan eksplorasi dan produksi (E&P) di luar negeri. Kenapa dilarang? Karena kalau melakukan kegiatan E&P di luar negeri maka yang mendapat keuntungan adalah negara, di mana aktivitas bisnis itu berlangsung. Inilah paham nasionalisme yang dianut oleh pemerintah Mexico pada waktu itu.
Lebih jauh lagi, PEMEX juga dilarang untuk punya E&P asset diluar negeri karena budget dan utang perusahaan diakui sebagai bagian dari APBN (federal budget). Semua pengeluaran harus untuk kepentingan nasional. Jadi PEMEX diperlakukan seperti badan pemerintah bukan sebuah perusahaan yang punya keleluasaan melakukan aksi korporasi.
Seberapa besar kontribusi PEMEX terhadap negara? Sekitar 30-40 persen pendapatan negara berasal dari PEMEX. Hampir semua keuntungan diambil oleh negara lewat pajak sehingga tidak ada ruang untuk melakukan investasi selain di dalam negeri. PEMEX hanya berfungsi sebagai alat negara yang menjalankan misi pemerintah bukan seperti NOC di negara lain.
Kesalahan strategi ini baru disadari pada tahun 2013 dengan diubahnya undang-undang energi, di mana PEMEX diperbolehkan untuk berinves-tasi di luar negeri selama mendapat persetujuan dari Kementerian Energi. Namun sampai hari ini PEMEX sangat susah untuk mengejar ketertinggalan dengan NOC negara lain. Apa saja kesalahan yang baru mereka sadari?
Pertama PEMEX adalah NOC yang punya utang paling besar di dunia. Sampai Juni tahun 2025, utang PEMEX sekitar USD 100 miliar. Dengan utang sebesar ini akan susah bagi PEMEX untuk melakukan ekspansi kecuali dibantu oleh negara. Pendapatan tahunan tersedot untuk membayar bunga dan cicilan.
Kedua, utilization rate dari enam kilang minyak (refinery) PEMEX yang kurang dari 60 persen. Hal ini jauh di bawah rata-rata utilization rate kilang di dunia yang di atas 90 persen. Beberapa penyebab rendahnya utilization rate adalah usia kilang yang sudah sangat tua (dibangun tahun 1970–1980-an) dan sering mengalami unplanned shutdown (berhenti beroperasi tanpa rencana). Selain itu terjadi ketidakse-suaian jenis minyak mentah dari lapangan baru dengan spesifikasi kilang.
Kesalahan ketiga adalah sumber daya manusia yang tidak ter-update dengan teknologi baru. Ilmu dan ketrampilan yang dimiliki tidak mampu untuk menggunakan teknologi yang lebih efisien. Mereka sudah nyaman dengan peralatan dan know-how yang sudah kuno sehingga kalah bersaing dengan NOC di luar negeri. Transfer of knowledge dari expats juga tidak terjadi karena alasan yang bersifat politik dan prosedur untuk mendapatkan izin kerja bagi expats yang sangat rumit. Kalau bisa semua harus dikerjakan bangsa sendiri.
Tentu ada lagi kesalahan lain yang baru disadari belakangan seperti biaya produksi minyak per barel yang dilakukan oleh PEMEX jauh di atas rata-rata biaya produksi lapangan sejenis di negara lain. Akibatnya, kalau harga minyak rendah maka PEMEX kadang tidak mampu untuk memberikan keuntungan kepada negara.
Dari cerita di atas, ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil. Go international merupakan sebuah keharusan untuk NOC agar bisa survive dalam persaingan memperebutkan minyak di dunia. NOC yang masih mempertahankan semangat nasionalisme sempit dan tidak mau membuka diri terhadap kemajuan teknologi akan mengalami kemunduran. Perlahan namun pasti, akan tiba masanya negara tidak mampu lagi untuk memberikan subsidi agar NOC tersebut bisa bertahan hidup. Semoga bisa menjadi bahan pelajaran. [ ]
*Mantan menteri energi dan sumber daya mineral






