SanusVeritas

Pada Abad 18, Kekhalifahan Utsmani Telah Mengenal Vaksinasi Saat Edward Jenner Belum Lagi Jadi Zygot

Prosedur ‘pencacaran’ di wilayah Utsmani  saat itu mencakup pemberian serbuk berupa benang cacar atau cairan yang diambil dari jerawat seseorang yang cacar, kepada luka kecil yang dubuat pada lengan atau kaki orang sehat

JERNIH– Pada tahun 1721 M, istri duta besar Inggris di Istanbul menulis surat untuk negaranya. Ia menjelaskan dengan takjub bagaimana Kekhalifahan Utsmaniyyah menangani wabah cacar, salah satu epidemi yang paling mengerikan saat itu.

Jika catatan di atas benar, maka sejatinya penemu ‘vaksinasi’ pertama di dunia bukanlah Edward Jenner, seorang kelahiran Berkeley, Gloucestershire, Inggris, yang baru melakukan vaksinasi pada 1796. Artinya, saat ‘vaksinasi’ cacar telah diberlakukan di wilayah Utsmani, Edward Jenner bahkan belum lagi berupa zygot.  

Edward Jenner, seorang ‘dokter’ muda berbakat, pada Mei 1796 memasukkan nanah yang diambil dari pustula cacar sapi ke dalam sayatan yang dibuatnya di lengan Sarah Nelmes, seorang gadis kecil yang mengeluhkan ruam di tangannya, saat wabah cacar bergejolak. Upaya Jenner itu berhasil menghindarkan Nelmes dari wabah cacar. Pada 1797, Jenner Jenner menyerahkan makalah yang dibuatnya seputar ‘vaksinasi’ ke Royal Society, yang akhirnya menjadi sebab penemuan vaksinasi ‘pertama kali’.

Dalam sejarah manusia cacar adalah salah satu penyebab utama kematian massal pada abad ke-18. Penyakit yang ditandai demam, parah dan menular yang meninggalkan parut-parut laiknya pematang pada wajah, paras yang penuh benjolan dan nanah, telah menewaskan tiga dari 10 orang yang terinfeksi. Cacar telah menyebabkan problem kesehatan yang parah, serta kerusakan kulit yang tidak dapat diperbaiki.

Pada abad 20 saja, cacar diperkirakan telah membunuh 300 juta orang dan 500 juta orang dalam 100 tahun terakhir keberadaan virus itu, sebelum bisa diberantas pada 1979.

Lady Mary Wortley Montagu—sang istri dubes tersebut, dalam suratnya kepada negaranya, menjelaskan dengan sangat terkejut bahwa sesuatu yang disebut vaksinasi cacar tengah diberlakukan di Istanbul. Surat itu adalah dokumen tertua yang membuktikan pembuatan vaksin di Kekhalifahan Utsmani (Ottoman) tersebut.

Prosedur ‘pencacaran’ saat itu mencakup pemberian serbuk berupa benang cacar atau cairan yang diambil dari jerawat seseorang yang cacar, yang dengan singkat diberikan pada lengan atau kaki orang sehat yang tidak terinfeksi. Sebelumnya, pada tubuh orang sehat tersebut dibuat goresan kecil di kulit.

Cacar air saat ini berbeda dengan cacar penyebab wabah di masa lalu. Cacar zaman itu disebut cacar api. [dari berbagai sumber, termasuk WAG]

Back to top button