PersonaVeritas

Umar bin Abdul Aziz; Bukan Usia Panjang, Tapi Kebaikan yang Lestari [3]

Diceritakan, di Damaskus, al-Walid menurunkan ‘basilika’ John Pembaptis dan menjadikannya bagian dari masjid Umayyah. Ketika Umar menjadi khalifah, orang Kristen mengadukan tentang penyitaan gerejanya, dan ia seketika itu juga memerintahkan gubernurnya mengembalikan kepada pemilik asalnya.

JERNIH– Umar bin Abdul Aziz, sebagai administrator, sangat paham akan tugas-tugasnya di dunia dan akhirat. Pekerja keras ini tidak pernah mau menuruti nasihat mereka agar mengambil istirahat.

Ia suka mengambil contoh pemerintahan Khalifah Umar untuk dipraktikkannya. Umar bin Abdul Aziz termasuk lima khalifah saleh versi Imam Sofyan Tsauri, di samping Abu Bakar, Umar al-Faruk, Usman, dan Ali. Ciri paling menonjol kekhalifahannya ialah penghidupan kembali semangat demokrasi Islam yang ditindas ketika Yazid naik takhta. Dalam sebuah surat yang dialamatkan kepada gubernur Kufah, Umar mendesak para gubernur agar menghapuskan semua peraturan yang tidak adil.

Ia menulis, “Anda harus mengetahui, agama dapat terpelihara baik bila terdapat keadilan dan kebajikan. Jangan anggap remeh segala dosa, jangan coba mengurangi apa yang menjadi hak rakyat, jangan paksakan rakyat melakukan sesuatu di luar batas kemampuan mereka: ambillah dari mereka apa yang dapat mereka berikan; lakukanlah apa saja untuk memperbaiki kehidupan dan kesejahteraan rakyat; memerintahlah dengan lemah lembut tanpa kekerasan, tidak menerima hadiah pada hari-hari besar, jangan memungut biaya atas buku suci (yang disebarkan pada penduduk), jangan mengutip pajak atas para pelancong atau perkawinan, atau atas susu sapi, dan jangan kenakan pajak terhadap mereka yang baru masuk agama Islam dengan tujuan mendapatkan hak pilih.”

Khalifah yang taat itu membubarkan 600 pengawal pribadi khalifah. Ia menerima gaji kurang dari jumlah yang didapat bawahannya. Di sekitarnya ia himpun orang-orang pandai yang bertugas memberikan nasihat mengenai masalah kenegaraan kepadanya.

The Encyclopaedia of Islam mengakui bahwa Umar bin Abdul Aziz bersikap sangat baik dan adil terhadap orang non-Muslim, malahan sangat memperhatikan mereka. Orang Kristen, Yahudi, dan penyembah api diizinkan mendirikan dan beribadah di gereja, sinagog, dan kuil mereka. Diceritakan, di Damaskus, al-Walid menurunkan ‘basilika’ John Pembaptis dan menjadikannya bagian dari masjid Umayyah. Ketika Umar menjadi khalifah, orang Kristen mengadukan tentang penyitaan gerejanya, dan ia seketika itu juga memerintahkan gubernurnya mengembalikan kepada pemilik asalnya. Orang Kristen juga diusahakan agar tidak dibebani pajak yang mencekik leher.

Di Aila dan Cyprus, jumlah upeti yang sudah dinaikkan melalui perjanjian dengannya, ia turunkan kembali ke dalam jumlah sebelum berlakunya perjanjian.

Pada suatu ketika, seorang Muslim membunuh seorang non-Muslim di Hira. Ketika berita pembunuhan sampai ke telinga Umar, ia langsung memerintahkan gubernur setempat agar perkaranya diproses dengan menegakkan keadilan. Pembunuh kemudian diserahkan kepada keluarga si terbunuh, lalu dia dibunuh.

Seorang Kristen pernah mengajukan tuntutan kepada Hisyam ibn Abdul Malik, yang di kemudian hari menjadi khalifah. Dalam kasus ini, Khalifah Umar memerintahkan agar penggugat dan tergugat sendiri berdiri berdampingan di sidang pengadilan. Cara ini menjengkelkan Hisyam, sampai ia mencaci-maki orang Kristen itu. Hisyam malahan ditegur khalifah dan diancam dengan tindakan setimpal.

Untuk mengetuk hati rakyat agar mau beramal, bersikap sabar dan berbuat kebajikan, Umar bin Abdul Aziz sangat menekankan pada aspek-aspek etis. Ia bersikap keras terhadap orang yang berbuat tidak senonoh.

Tindakan-tindakan yang adil dan sesuai ajaran Quran dan Hadis membuat negara mencapai stabilitas, rakyat menjadi sejahtera, dan kehidupan berlangsung aman dan damai. Di masa itu hampir tidak dapat ditemukan orang yang mau menerima sedekah. Itu dicapai dalam masa pemerintahannya yang sangat singkat, dua tahun rakyat telah menjadi begitu sejahtera dan puas. Yang tidak puas, mudah diduga, berasal dari keluarga besar Umayyah, yang terbiasa hidup mewah.

Umar bin Abdul-Aziz tidak terlalu banyak menekankan pemerintahannya pada kemegahan dan kemenangan di bidang militer. Ia lebih memperhatikan administrasi, pembangunan ekonomi dalam negeri, dan konsolidasi negara. Pengepungan terhadap Constantinopel ditingkatkan. Di Spanyol, pasukan Islam menyeberangi Pyrennes dan menyusup sampai ke Toulouse di Prancis Tengah.

Pemerintahannya, bagaikan hujan rahmat yang membawa berkah secara universal. Pada masa pemerintahannya, seluruh orang Berber di Afrika Utara, dan kaum ningrat Sind, memeluk agama Islam atas kemauan sendiri. Ini salah satu hal yang menonjol pada masa rezim Umar. “Umar tidaklah merasa berkewajiban menyebarluaskan Islam melalui mata pedang,” tulis The Encyelopaedia of Islam. “Dia lebih suka menjalankan misinya secara damai, dengan mengajak pemeluk kepercayaan lain masuk agama Islam.”

Umar bin Abdul Aziz adalah penguasa yang unik dari segala segi. Nilai administrasi yang tinggi yang ditetapkannya hanya dapat tertandingi oleh empat khalifah Islam yang pertama.

“Pemerintahan Umar II”, tulis Ameer Ali, “merupakan masa yang paling menarik dari dominasi kekuasaan Umayyah. Para sejarawan menyaksikan dengan rasa puas karya dan aspirasi seorang penguasa yang menjadikan kesejahteraan rakyatnya sebagai satu-satunya tujuan ambisinya.”

Tak ada yang menandingi pemerintahannya yang singkat tetapi gilang-gemilang itu. Seorang orientalis Eropa mengakui bahwa “Sebagai khalifah, Umar berdiri sendiri. Ia berbeda dari para pendahulunya maupun dari penggantinya. Diilhami oleh kesalehan yang sejati, walaupun tidak sepenuhnya bebas dari fanatisme, ia sangat sadar akan tanggung jawabnya terhadap Tuhan, dan ia selalu berusaha meneruskan apa yang dia percayai sebagai sesuatu yang benar dan dengan sabar menjalankan tugasnya sebagai raja. Dalam kehidupan pribadinya, ia terkenal dengan kesederhanaan dan sikap hidup yang suka berhemat.” [ ]

Dari “Hundred Great Muslims”, Kh Jamil Ahmad, Ferozsons Ltd, Lahore, Pakistan, 1984

Back to top button