POTPOURRIVeritas

Kenangan Menikmati “Balakatineung Kakaren” Lebaran

Nasinya sudah bisa dipastikan pulen, wangi. Bisa dimakan setelah dikepal-kepal (dikeupeul buleud) lalu dicocolkan ke sambel tarasi, karena varietas padinya umumnya padi bulu (pare bulu) yang memiliki bulu panjang di ujung butiran padinya

Oleh : Darmawan Sepriyossa

JAKARTA—Dulu, di zaman ‘old normal’, hari-hari menjelang Lebaran di kampung selalu identik dengan saling berbagi makanan. Jadi jarang, bahkan terasa janggal manakala di akhir bulan Ramadan sebuah rumah tangga memasak sesuatu tanpa ikut dinikmati para tetangganya.

Saling berkirim makanan hasil masakan rumah tangga itu biasanya mulai marak sejak 10 hari terakhir Ramadan. Tanggal-tanggal  ‘lilikuran’ kalau dalam bahasa Sunda. Di hari-hari itu bisa dipastikan saya dan adik kembar mulai sibuk mengantar makanan ke sana kemari. Tidak hanya tetangga dekat, tetapi juga kerabat-kerabat di lain kampung. Semua dilakukan dengan berjalan kaki, sebagaimana kebiasaan saat itu. Di akhir 1970-an sampai 1980-an, sangat jarang warga kampung saya memiliki sepeda, apalagi sepeda motor. Jadi kemana pun mereka bepergian, semua dilakukan dengan berjalan kaki. Paling banter pakai becak, atau delman, tapi sangat jarang. Memakai dua kendaraan itu selalu bermakna khusus: kalau tidak karena ketergesaan atau darurat, pasti karena harus melakukan perjalanan antarkecamatan. Seingat saya, kalau hanya antardesa, sekitar lima sampai tujuh kilo meteran, semua dilakukan dengan berjalan kaki.

Tradisi itu kalau tak salah disebut ‘mawakeun’ atau ‘nganteuran’ yang artinya relatif sama: ‘membawakan’.  Biasanya makanan itu ditaruh dalam rantang susun tiga. Bagian terbawah rantang berisi nasi padat; istimewanya kalau ‘sangu huma’ atau nasi yang berasnya berasal dari padi yang ditanam di ladang (huma), bukan sawah. Mengapa istimewa? Nasinya sudah bisa dipastikan pulen, wangi. Bisa dimakan setelah dikepal-kepal (dikeupeul buleud) lalu dicocolkan ke sambel tarasi, karena varietas padinya umumnya padi bulu (pare bulu) yang memiliki bulu panjang di ujung butiran padinya.(Kasihan, anak-anak milenial tak sempat menikmati padi yang ditanam di ladang ini. Tapi mereka masih bisa ikut menikmati dengan ikut bermalam satu dua hari di Kabuyutan Ciptagelar, Banten Selatan. Nasinya dipastikan selalu berasal dari ‘pare huma’).  

Rantang tengah biasanya berisi sambal goreng kentang, kadang sambal goreng ati-ampela kalau kebetulan yang berkirim tengah dicurahi rejeki agak lebih. Sementara rantang teratas bisa variatif. Namun yang paling sering adalah goreng mi, bihun atau soun. Sesekali di rantang teratas ini bisa kita temukan juga juadah (di Majalengka kadang disebut jajabur), kue-kue basah yang dibuat sendiri, seperti jalabria, nagasari, putri noong, awug, putu, cuhcur atau tangtang angin, meski jarang.

Yang menarik, pada beberapa kalangan tradisi mawakeun atau nganteuran itu juga sering dijadikan ajang pamer rantang. Rantang-rantang ‘edisi terbaru’ biasanya ‘midang’ saat itu, dipamerkan sepanjang perjalanan jalan kaki oleh pengantar yang seringnya si ibu pemilik rantang atau anak-anaknya. Pembantu rumah tangga zaman itu sangat jarang. Rumah tangga yang memiliki pembantu biasanya sudah pasti dari kalangan ‘menak’ alias bangsawan zaman jeprut. Dan itu bisa berlangsung turun temurun. Artinya, bila seseorang menjadi pembantu rumah tangga menak ‘Anu’, biasanya anak-anaknya juga akan menjadi pembantu rumah tangga keluarga tersebut atau keturunannya. Hubungannya juga lama-lama—terutama kalau pihak menaknya kalangan yang ‘mikir’, nyaris menjadi laiknya hubungan keluarga. Seingat saya, tak ada semacam gaji dalam hubungan tersebut. Hanya dalam batas-batas tertentu kebutuhan keluarga pihak ‘pembantu’ akan ditanggung keluarga si menak.

Motif rantang-rantang tersebut kebanyakan bunga-bunga atau batik. Mungkin bukan batik, hanya pecahan cat yang menyebar saat proses pembuatan. Umumnya rantang terbuat dari seng yang dilapisi cat tebal sehingga kelihatan seperti tembikar. Belakangan, seingat saya awal 1980-an, muncul rantang generasi baru dari aluminium. Rantang ini tidak dilapisi cat, melainkan polos begitu saja. Motifnya dibuat dengan membuat cembungan-cembungan relief pada tubuh rantang. Nah, pada masanya, rantang jenis ini pernah menjadi trend dan sumber kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya.

Karena tradisi saling berkirim ini, biasanya usai Lebaran masakan kiriman itu patulayah alias banyak banget. Umumnya, mungkin karena capek sisa aktivitas Lebaran, ditambah saat itu biasanya belum ada warung yang buka, para ibu akan menghangatkan masakan kiriman tersebut. Tidak dihangatkan terpisah satu persatu, melainkan brus segala macam masakan itu dicampurkan jadi satu. Mulai dari sambal goreng ati, sambal goreng kentang, semur daging, goreng mi, bihun dan soun, mi laksa cabe ijo, semur jengkol, sambal goreng pete, bahkan apalah yang tersisa, dicampur dan dihangatkan jadi satu. Mungkin kata ‘dihangatkan’ pun kurang pas, karena umumnya campuran itu lebih disukai dibiarkan hingga cenderung kering. Jadilah kemudian masakan baru yang diberi nama ‘balaketineung’.  

Ada banyak tafsir tentang ‘balakatineung’ ini. Ada yang menafsirkan ‘bala’ itu ‘runtah’ atau sampah. Katineung, ya…kasaih-sayang, atau kangen. Jadi ada yang mengartikan balakatineung itu sampah yang kalau dibuang, sayang.

Namun ada pula yang mengartikan bala itu tidak sebagai sampah. Bala, dalam basa Sunda pun mengandung arti ‘banyak’. Misalnya, wadya bala, yang diartikan sebagai pasukan atau orang-orang dalam bebeberapa kelompok yang banyak. Sementara ‘katineung’ selain berarti sayang, juga memiliki makna ‘kenangan’. Jadi, ada juga yang mengartikan balakatineung sebagai masakan dari banyak jenis, yang menarik kita kepada kenangan akan Lebaran.

Tapi, what is in a name, lah… Yang pasti, biar namanya apa pun, balaketineung itu nikmat. Apalagi bila sadar bahwa fulus di kantong sudah koredas dipakai biaya Lebaran. Ni’mat we nu aya….. [  ]

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close