Oikos

Ancaman Tersembunyi di Balik AirPods

Tren earbud nirkabel mungkin praktis, namun penelitian terbaru mengungkap risiko kesehatan yang mengintai—mulai dari infeksi bakteri hingga tuli permanen.

WWW.JERNIH.CO Earbud nirkabel seperti AirPods telah menjadi bagian tak terpisahkan dari gaya hidup modern. Baik untuk bekerja, berolahraga, maupun sekadar menikmati musik di perjalanan, perangkat ini menawarkan kenyamanan tanpa kabel yang luar biasa.

Namun, di balik kepraktisan tersebut, para ahli kesehatan dan peneliti mulai memberikan peringatan serius mengenai dampak jangka panjang penggunaan earbud terhadap kesehatan pendengaran dan kebersihan telinga.

Salah satu ancaman paling nyata adalah Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) atau gangguan pendengaran akibat kebisingan. Berbeda dengan headphone tradisional yang menutupi seluruh telinga, earbud diletakkan langsung di dalam lubang telinga. Posisi ini membuat gelombang suara masuk lebih dekat ke gendang telinga dan meningkatkan intensitas suara hingga 7 sampai 9 desibel.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Health Perspectives, paparan suara di atas 85 desibel (dB) dalam jangka waktu lama dapat merusak sel-sel rambut di koklea (telinga dalam).

Masalahnya, banyak pengguna menyetel volume hingga 100 dB untuk meredam kebisingan lingkungan sekitar. Kerusakan pada sel rambut ini bersifat ireversibel; sekali rusak, mereka tidak dapat tumbuh kembali, yang berujung pada tuli permanen atau tinnitus (bunyi berdenging kronis).

Penggunaan earbud dalam durasi yang lama juga menciptakan lingkungan mikro yang merugikan di dalam saluran telinga. Berdasarkan studi dalam Journal of Health and Allied Sciences, penggunaan earbud secara rutin meningkatkan pertumbuhan bakteri di telinga.

Earbud menutup saluran telinga, meningkatkan kelembapan dan suhu di dalamnya. Kondisi hangat dan lembap ini adalah inkubator sempurna bagi bakteri dan jamur.

Juga dimungkinkan terjadi Otitis Externa. Infeksi telinga luar ini sering terjadi pada pengguna yang jarang membersihkan perangkat mereka. Gejalanya meliputi rasa gatal, nyeri hebat, hingga keluarnya cairan dari telinga.

Secara alami, telinga mendorong kotoran (serumen) keluar. Earbud justru mendorong kotoran tersebut masuk lebih dalam, yang dapat menyebabkan penyumbatan (impacted cerumen) yang mengganggu pendengaran.

Meskipun masih menjadi perdebatan hangat, penggunaan teknologi Bluetooth pada AirPods memicu kekhawatiran terkait radiasi Non-Ionizing Electromagnetic Field (EMF). Sejumlah ilmuwan yang menandatangani petisi kepada PBB dan WHO mengungkapkan kekhawatiran bahwa penempatan pemancar Bluetooth tepat di dalam saluran telinga dapat memberikan paparan radiasi yang konstan ke jaringan otak yang sensitif.

Walaupun tingkat radiasi ini masih dalam batas aman menurut standar FCC, beberapa penelitian menyarankan perlunya sikap hati-hati (precautionary principle) terkait efek biologis jangka panjangnya.

Untuk tetap menikmati musik tanpa mengorbankan kesehatan, para ahli menyarankan aturan 60/60. Volume maksimal 60%, jangan pernah mendengarkan musik lebih dari 60% volume maksimal perangkat.

Lantas durasi 60 menit cukup. Istirahatkan telinga Anda setelah penggunaan selama satu jam. Jangan abaikan rutin membersihkan earbud dengan alkohol swab untuk membunuh bakteri yang menempel.(*)

BACA JUGA: Beats Powerbeats Fit: TWS Olahraga dengan Sentuhan Premium

Back to top button