Biaya Perang Iran Kini Dibebankan kepada Dompet Rumah Tangga di Dunia

JERNIH – Masyarakat di negara-negara maju kini dipaksa menjadi “penyokong dana” terselubung bagi perang di Iran. Seorang ekonom terkemuka memperingatkan bahwa lonjakan biaya akibat konflik tersebut tidak lagi ditanggung oleh negara atau perusahaan besar, melainkan langsung dialihkan kepada konsumen akhir dalam bentuk kenaikan harga barang dan energi.
Paul Donovan, Kepala Ekonom Global di UBS Wealth Management, mengungkapkan kepada CNN bahwa korporasi secara efektif memindahkan beban biaya tinggi langsung ke tangan masyarakat.
Menurut Donovan, tekanan inflasi yang dipicu oleh ketidakstabilan pasar energi membuat banyak rumah tangga di Barat harus menguras tabungan pribadi mereka hanya untuk mempertahankan standar hidup dasar.
“Konsumen di pasar negara maju telah menggali tingkat tabungan mereka, memotong jumlah uang yang mereka simpan setiap bulan agar mampu membayar harga-harga yang lebih tinggi,” ujar Donovan dalam wawancaranya.
Kondisi ini diperparah dengan sentimen konsumen di Amerika Serikat yang jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah bulan ini, seiring pasar bereaksi terhadap penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan.
Blokade di Selat Hormuz, jalur vital bagi ekspor energi global, telah mengguncang pasar dunia secara masif. Kenaikan harga bahan bakar kini merembet ke segala sektor. Di sektor transportasi dan logistik terjadi lonjakan biaya pengiriman. Harga pangan juga melonjak akibat terganggunya distribusi serta tagihan listrik dan gas mencapai level yang mencekik.
Donovan memperingatkan adanya breaking point (titik jenuh). Jika masyarakat sudah tidak bisa lagi memotong jatah tabungan mereka, maka konsumsi barang kebutuhan lain akan dipangkas secara drastis demi bisa membayar tagihan energi.
Beban ini menghantam di saat ekonomi Barat sudah tertatih-tatih menghadapi upah yang mandek dan penurunan daya beli. Jika konsumen berhenti belanja karena uangnya habis untuk bensin dan listrik, aktivitas ekonomi secara luas bisa mengalami perlambatan signifikan atau bahkan resesi.
Keluarga kelas pekerja dan berpenghasilan rendah menjadi kelompok yang paling menderita. Mereka harus menghadapi guncangan energi terbaru ini setelah bertahun-tahun berjuang melawan inflasi pangan dan krisis perumahan.
Para kritikus mulai menyoroti bahwa eskalasi militer Barat di Asia Barat (Timur Tengah) pada akhirnya hanya menghasilkan ketidakstabilan yang harus dibayar mahal oleh warga sipil di Eropa dan Amerika Utara. Para ekonom memperingatkan pemerintah bahwa mereka mungkin akan menghadapi kemarahan publik yang besar jika dampak ekonomi dari konflik berkepanjangan ini terus dibebankan kepada rakyat kecil.






