Crispy

Dunia Terancam Resesi, Iran Tutup Selat Hormuz, Harga Minyak Bisa Tembus US$100

JERNIH – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur urat nadi minyak dunia, Minggu (1/3/2026). Langkah drastis ini merupakan aksi balasan Iran atas serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Brigadir Jenderal IRGC, Ibrahim Jabari, menegaskan bahwa penutupan dilakukan sebagai respons langsung terhadap agresi militer di wilayahnya. Informasi ini diperkuat oleh laporan Angkatan Laut Uni Eropa (Apsides), yang menangkap transmisi radio VHF dari IRGC berisi larangan keras bagi seluruh kapal untuk melintasi kawasan tersebut.

Penutupan jalur vital ini memicu kekhawatiran hebat di pasar energi dunia. Mantan penasihat energi Gedung Putih, Bob McNally, memperingatkan bahwa harga minyak mentah berpotensi melonjak melampaui US$100 per barel dalam waktu singkat.

“Penutupan Selat Hormuz dalam waktu lama akan menjamin terjadinya resesi global,” ujar McNally. Ia memprediksi harga kontrak berjangka minyak akan langsung melompat US$5 hingga US$7 per barel saat perdagangan dibuka esok hari.

Sebelum penutupan ini, harga minyak Brent sudah terkonsolidasi di level US$72,48 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$67,02 per barel.

Data dari Kpler menunjukkan betapa krusialnya jalur ini bagi stabilitas energi dunia, khususnya Asia. Hal ini mengingat lebih dari 14 juta barel per hari (sepertiga ekspor laut dunia) melewati selat ini. Sebanyak 75% pengiriman minyak mentah dari selat ini ditujukan ke China, India, Jepang, dan Korea Selatan. Sebagai ekonomi terbesar kedua dunia, China menerima setengah dari total impor minyak mentahnya melalui jalur ini.

Selain minyak, sekitar 20% pasokan gas alam cair (LNG) dunia yang berasal dari Qatar juga terhenti total. McNally memperingatkan akan terjadinya aksi penimbunan energi besar-besaran oleh negara-negara Asia, yang ia sebut sebagai “perang penawaran terbesar dalam sejarah.”

Menanggapi pengumuman “larangan melintas” dari Iran, Kementerian Perkapalan Yunani telah mengeluarkan imbauan kepada seluruh kapal tangker untuk menghindari Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz.

Penutupan ini menyulitkan posisi negara-negara pengekspor besar seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak yang menggantungkan jalur tersebut untuk menyalurkan energi ke pasar global. Tanpa adanya jalur alternatif yang sebanding, dunia kini bersiap menghadapi guncangan ekonomi yang bisa memicu inflasi ekstrem di berbagai negara.

Back to top button