Crispy

Korean Air Larang Pengangkutan Ayam Jago ke Filipina, Industri Sabung Ayam Terancam Krisis

JERNIH – Maskapai asal Korea Selatan, Korean Air, resmi mengeluarkan kebijakan larangan pengiriman ayam jago pada rute penerbangan dari Amerika Serikat menuju Filipina. Langkah ini diambil setelah adanya tekanan kuat dari para aktivis hak asasi hewan terkait maraknya industri sabung ayam di negeri lumbung padi tersebut.

Filipina dikenal memiliki industri sabung ayam yang masif. Estimasi industri menyebutkan warga Filipina bertaruh hingga puluhan juta dolar setiap harinya demi menyaksikan dua ayam jago bersenjata taji logam bertarung hingga mati.

Selama ini, Amerika Serikat menjadi pemasok utama ayam jago berkualitas tinggi bagi para peternak di Filipina. Eduardo Eugenio, seorang peternak lokal di Kota Tagum, mengakui bahwa penghentian impor dari AS akan memberikan dampak yang luar biasa besar bagi industri ini. “Warga Amerika adalah yang terbaik dalam hal pembiakan material ayam jago,” ujar Eugenio yang mengelola peternakan berisi 300 ekor ayam.

Organisasi Animal Wellness Action menyebut Korean Air sebagai maskapai global terbesar yang (secara tidak langsung) memfasilitasi perdagangan hewan petarung ilegal. Setelah investigasi selama berbulan-bulan, maskapai tersebut akhirnya setuju untuk menghentikan seluruh pengiriman ayam jago.

Dalam pernyataan resminya kepada AFP, Sabtu (9/5/2026), pihak Korean Air menyatakan: “Kami telah menangguhkan transportasi ayam jago dari segala usia pada rute dari Amerika Serikat ke Filipina. Korean Air berkomitmen pada pengangkutan hewan hidup yang aman dan sah sesuai dengan hukum yang berlaku.”

Jana Sevilla, juru bicara PETA (People for the Ethical Treatment of Animals) di Filipina, meyakini bahwa keputusan ini murni karena isu sabung ayam. Pihaknya mengapresiasi langkah Korean Air dan berharap maskapai lain segera mengikuti jejak tersebut. “Kami berharap sabung ayam akan ilegal di seluruh dunia suatu hari nanti,” tambah Sevilla.

Menurut laporan aktivis, para pemasok di AS sering kali menyamar sebagai petani biasa atau “pembiak jinak” untuk mengirim puluhan ribu burung petarung ke Filipina setiap tahunnya. Selain ke Filipina, pengiriman serupa juga masif dilakukan ke Meksiko melalui jalur darat dan udara.

Back to top button