Mencuri dari Para Dewa: Skandal Korupsi Kuil Ram Guncang India dan Coreng Rezim Modi

JERNIH – Setiap sore, Brajesh Kumar menaiki tangga rumahnya menuju teras atap lantai tiga. Di sana, dalam keheningan, pria berusia 65 tahun itu duduk menyendiri sembari menatap ke arah kemegahan Kuil Ram yang berdiri tegak di Ayodhya, India Utara.
Selama berpuluh-puluh tahun, Kumar menjadi saksi hidup bagaimana kota kecil yang dulunya sepi ini bermetamorfosis menjadi episentrum gerakan mayoritarianisme Hindu. Gerakan ini dikomandoi langsung oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.
Namun, kedamaian spiritual yang dirasakan Kumar runtuh dalam sebulan terakhir. Kuil suci yang menjadi simbol kejayaan politik dan agama itu kini terperosok dalam skandal penggelapan dana sumbangan bernilai jutaan dolar.
“Kami telah dikhianati. Mereka telah merampok iman kami, tidak kurang dari itu,” ujar Kumar dengan nada getir kepada Al Jazeera. “Jika dibiarkan, suatu hari nanti mereka akan menjual kami semua atas nama agama demi menggemukkan dompet mereka sendiri.”
Kuil Ram didirikan di atas lahan penuh darah. Di lokasi yang sama, dulunya berdiri Masjid Babri abad ke-16 yang dihancurkan oleh massa Hindu pada tahun 1992—sebuah insiden kelam yang memicu kerusuhan agama dan menewaskan hampir 2,000 orang di seantero India, sebagian besar adalah umat Muslim.
Sekitar dua setengah tahun lalu (Januari 2024), PM Modi memimpin langsung upacara peresmian kuil megah ini. Bagi jutaan umat Hindu, kuil ini adalah tanah suci tempat lahirnya Dewa Ram, simbol kebenaran tertinggi.
Namun kini, “wadah suci” itu berubah menjadi ladang korupsi. Skandal ini mencuat setelah Mahipal Singh, mantan pengawas tim akuntansi lembaga independen pengelola kuil, Shri Ram Janmabhoomi Teerth Kshetra Trust, berteriak ke publik mengenai adanya ketidakberesan laporan keuangan.
Gelombang protes tak terbendung. Akhilesh Yadav, mantan Kepala Menteri Uttar Pradesh dari partai oposisi (Samajwadi Party), langsung menyuarakan isu ini ke panggung politik dengan tuduhan bahwa jutaan rupee uang donasi jemaah telah raib.
Guna meredam amarah publik, pemerintah negara bagian Uttar Pradesh yang dikuasai BJP buru-buru membentuk tim investigasi beranggotakan tiga orang. Meski laporan resmi tim belum dibuka ke publik, kepolisian bergerak cepat melakukan penindakan:
| Tindakan Hukum & Kelembagaan | Detail Operasi & Dampak |
| Penangkapan Tersangka | Setidaknya 8 orang telah ditangkap, termasuk petugas penghitung uang tunai dan barang berharga di kuil. |
| Pembersihan Pejabat Teras | Champat Rai, Sekretaris Jenderal Trust yang menjadi tokoh sentral gerakan Kuil Ram, resmi mundur dari jabatannya bersama beberapa wali amanat papan atas lainnya. |
| Tuntutan Jemaah | Banyak umat kini mendatangi pengurus kuil untuk mempertanyakan keberadaan barang berharga yang mereka sumbangkan, termasuk bata perak, perhiasan emas, dan artefak kuno. |
Namun, bagi sebagian orang, langkah ini dinilai hanya taktik kosmetik. Karpatri Maharaj, seorang pemuka agama Hindu terkemuka yang terlibat dalam gerakan Kuil Ram, menilai pemerintah sengaja mengorbankan karyawan rendahan.
“Pemerintah menggunakan staf junior sebagai kambing hitam dan menangkap mereka, sementara melindungi ‘ikan besar’ yang sebenarnya merancang kebusukan struktural ini,” kritik oposisi, Akhilesh Yadav, yang menuntut transparansi total.
Kemarahan Sang Ekstremis
Kepedihan mendalam juga dirasakan oleh Santosh Dubey. Pria ini bukan orang sembarangan; ia adalah salah satu pelaku yang diadili karena ikut meruntuhkan Masjid Babri pada tahun 1992—peran yang selama ini selalu ia pamerkan dengan bangga.
Pada 2019, Mahkamah Agung India menyerahkan lahan sengketa tersebut kepada umat Hindu dan memberikan lahan pengganti bagi umat Muslim di luar Ayodhya. Setahun kemudian, Dubey dan koleganya dibebaskan dari tuntutan hukum karena dinilai kekurangan bukti.
Jika putusan pengadilan kala itu membuat Dubey merasa menang, skandal korupsi di kuil ini justru membuatnya murka.
“Korupsi ini menyebabkan kepedihan yang sangat dalam, rasa sakit yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” cetus Dubey dari Ayodhya. “Satu-satunya hal yang pantas bagi mereka adalah hukuman mati. Pencuri yang licik, tidak jujur, dan kejam kini menjalankan Kuil Ram.”
Skandal “pencurian uang dewa” ini diprediksi akan menjadi hantaman elektoral yang fatal bagi PM Narendra Modi dan BJP. Mengapa? Karena insiden ini merusak narasi utama yang selama ini dijual BJP kepada konstituennya: bahwa mereka adalah satu-satunya “juru selamat” dan benteng pelindung iman Hindu.
Apalagi, beberapa bulan ke depan, negara bagian Uttar Pradesh—wilayah berpenduduk paling padat di India yang dipimpin oleh biksu Hindu garis keras, Yogi Adityanath—akan menggelar pemilu lokal yang sangat krusial.
Pada pemilu nasional 2024 lalu, BJP sudah kehilangan banyak kursi di wilayah ini, memaksa Modi bergantung pada koalisi partai lain untuk mempertahankan kursi perdana menteri.
Analis politik Rasheed Kidwai menilai, skandal ini tidak akan mudah dilupakan oleh masyarakat karena menyentuh ranah sensitif, yaitu keyakinan iman. Ini menjadi pelajaran berharga bahwa mengeksploitasi emosi keagamaan dan memicu polarisasi bisa berbalik menjadi senjata makan tuan. “Apa yang selama ini menguntungkan BJP selama bertahun-tahun, kini bisa berbalik menyebabkan kerusakan yang luar biasa besar bagi mereka,” tambah Kidwai.






