
Trump sesumbar bahwa kemampuan militer Iran telah hancur 100%. Namun, dalam napas yang sama, ia mengakui bahwa Teheran masih bisa mengirim satu atau dua drone, menjatuhkan ranjau, atau meluncurkan rudal jarak pendek di selat sempit tersebut.
JERNIH – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kini tengah mencoba jurus diplomasi “keroyokan”. Setelah memicu perang dengan Iran yang membuat pasar minyak dunia jungkir balik, Trump kini sibuk mengetik di platform Truth Social, mengundang negara-negara dunia untuk mengirim kapal perang ke Selat Hormuz.
Pesannya jelas, AS butuh koalisi angkatan laut untuk membuka kembali urat nadi minyak dunia yang kini sedang “dicekik” oleh Iran. Namun, masalahnya sederhana, sejauh ini, belum ada satu pun negara yang mengiyakan ajakan “pesta” di perairan paling berbahaya tersebut.
Dengan gaya khasnya, Trump sesumbar bahwa kemampuan militer Iran telah hancur 100%. Namun, dalam napas yang sama, ia mengakui bahwa Teheran masih bisa mengirim satu atau dua drone, menjatuhkan ranjau, atau meluncurkan rudal jarak pendek di selat sempit tersebut.
Anomali pernyataan ini memicu kritik pedas dari dalam negeri. Senator Demokrat Chris Murphy bahkan menyindir keras di platform X, “Soal Selat Hormuz, mereka (pemerintah Trump) TIDAK PUNYA RENCANA. Intinya, saat ini mereka tidak tahu bagaimana cara membukanya kembali dengan aman.”
Sementara Trump mengancam sekutu NATO dengan masa depan yang sangat buruk jika tidak membantu, negara-negara lain justru lebih memilih bernegosiasi langsung dengan Teheran ketimbang ikut angkat senjata.
Iran sendiri telah memberikan pengecualian cerdas, Selat Hormuz terbuka bagi siapa saja, kecuali kapal milik AS, Israel, dan sekutu dekat mereka. India telah berhasil meloloskan dua kapal tanker gas setelah bernegosiasi langsung dengan Teheran tanpa mengutuk pembunuhan pemimpin Iran.
Turki juga telah mendapatkan izin jalan untuk kapalnya setelah pembicaraan bilateral. Sementara Prancis dan Itali, kabarnya mulai membuka “pintu belakang” untuk berdialog dengan pejabat Iran guna mengamankan pasokan mereka.
Solusi Trump Dianggap Halusinasi?
Para ahli keamanan maritim, termasuk Alexandru Hudisteanu, menilai rencana koalisi Trump dipenuhi lubang teknis. Di selat yang lebarnya hanya 39 km pada titik tersempitnya, kapal perang besar akan menjadi “sasaran empuk” bagi serangan asimetris Iran.
“Hambatan terbesar adalah interoperabilitas—kemampuan kru dari berbagai negara untuk bekerja sama di lingkungan yang sangat tidak ramah di bawah ancaman rudal dan ranjau,” jelas Hudisteanu. Geografi Hormuz adalah keuntungan alami bagi Iran; itu adalah sebuah lorong maut di mana tidak ada jalan keluar kecuali Teheran mengizinkannya.
Permintaan Trump untuk ikut mengamankan Selat Hormuz mendapat rrespons dingin dari para sekutunya. Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menegaskan tidak ada rencana pengiriman kapal.
Sementara Prancis tetap pada posisi defensif dan menolak bergabung dalam perang melawan Iran. Australia sudah secara terang-terangan menyatakan tidak akan mengirim kapal ke Hormuz. Sedangkan Jerman menanggapi dengan skeptis. “Apakah kita akan segera menjadi bagian aktif dari konflik ini? Tidak,” tegas pejabat Jerman, Johann Wadephul.
Di tengah bisingnya ketikan Trump di media sosial, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran justru melempar tantangan balik yang menohok. Juru bicara IRGC, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naini, menyentil klaim Trump soal kehancuran angkatan laut Iran. “Bukankah Trump bilang angkatan laut Iran sudah hancur? Jika iya, silakan kirim kapal-kapalnya ke Teluk Persia jika dia berani,” tantang Naini.
Saat ini, sekitar 1.000 kapal tanker terdampar, menunggu kepastian di tengah harga minyak yang merangkak menuju $200 per barel. Sementara Trump berharap dunia mau patungan membayar biaya perang yang ia mulai, dunia tampaknya lebih memilih untuk menunggu sampai debu diplomasi—atau harga minyak yang tidak masuk akal—memaksa skenario lain terjadi.






