Harga Kedelai Impor Tembus Rp 11.000 per Kilogram, Berapa Kebutuhan Lokal?

Impor kedelai Indonesia masih 90%. Sementara 80% penggunaan kedelai untuk pangan. Bagaimana pengusaha tahu dan tempe menyiasati?
WWW.JERNIH.CO – Komoditas kedelai kembali menjadi perbincangan hangat di tanah air. Sebagai bahan baku utama pangan merakyat seperti tahu dan tempe, pergerakan harga kedelai selalu berdampak langsung pada isi dompet masyarakat luas.
Saat ini, harga kedelai impor di tingkat grosir/distributor merangkak naik dan berada di kisaran Rp 11.000 per kilogram. Di beberapa daerah tingkat eceran, harganya bahkan telah menembus Rp 12.500 hingga Rp 13.500 per kilogram. Kenaikan ini dipicu oleh fluktuasi harga komoditas global serta melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.
Memasuki awal tahun hingga pertengahan 2026, harga internasional sempat mengalami penyesuaian. Namun, depresiasi nilai tukar Rupiah yang terjadi belakangan ini kembali menekan biaya impor, sehingga harga di tingkat pengrajin lokal tertahan di angka Rp 11.000 per kilogram dan cenderung kembali merangkak naik di tingkat eceran pasar.
Ketergantungan Indonesia terhadap pasokan luar negeri sangatlah masif. Amerika Serikat (AS) menjadi negara asal utama intervensi pasokan kedelai ke Indonesia, disusul oleh negara-negara Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina. Kedelai dari wilayah-wilayah ini dipilih oleh importir karena kepastian volume pasokan dan kontinuitas pengiriman yang terjaga sepanjang tahun.
Di Indonesia, kedelai bukanlah sekadar komoditas pakan, melainkan bahan pangan pokok subtitusi protein hewani. Lebih dari 80% hingga 90% penggunaan kedelai di tanah air dialokasikan untuk industri pembuatan tahu dan tempe. Sisanya diserap untuk industri kecap, tauco, susu kedelai, dan pakan ternak.
Berdasarkan data Kementerian Pertanian, proyeksi kebutuhan kedelai nasional berkisar antara 2,6 juta hingga 2,7 juta ton per tahun.
Dari total kebutuhan yang mencapai 2,7 juta ton tersebut, produk kedelai lokal hanya mampu menyerap sebagian kecil kebutuhan nasional. Kebutuhan nasional masih bergantung pada pasokan luar negeri sekitar 90% hingga 95%. Artinya, produksi lokal hanya mampu menyuplai sekitar 150.000 hingga 200.000 ton saja.
Sentra produksi kedelai lokal di Indonesia tersebar di beberapa wilayah, antara lain di Jawa Timur (seperti Nganjuk, Pasuruan, dan Banyuwangi), Jawa Tengah (seperti Grobogan, Blora, Pati, dan Sragen), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan beberapa wilayah di DI Yogyakarta dan Jawa Barat.
Secara karakteristik fisik, kedelai impor dan kedelai lokal memiliki perbedaan yang sangat mencolok, terutama pada tampilan biji dan tingkat kebersihannya. Kedelai impor dikenal memiliki ukuran biji yang cenderung besar, seragam, dan bersih dari kotoran atau kulit ari yang terkelupas.
Sebaliknya, kedelai lokal umumnya memiliki ukuran biji yang lebih kecil dan bentuk yang kurang seragam akibat perbedaan teknik budidaya di tiap daerah, namun memiliki keunggulan dari segi kesegaran karena langsung didistribusikan setelah masa panen.
Dari sisi kadar air dan daya simpan, proses pasca-panen memegang peranan penting dalam membedakan kedua jenis kedelai ini. Kedelai impor memiliki kadar air yang sangat rendah dan kering sempurna karena diproses menggunakan mesin pengering modern skala industri, sehingga membuatnya jauh lebih awet dan tahan lama saat disimpan di dalam gudang.
Di sisi lain, kedelai lokal cenderung memiliki kadar air yang lebih tinggi karena sebagian besar petani domestik masih mengandalkan proses pengeringan pasca-panen secara tradisional di bawah terik matahari yang sangat bergantung pada cuaca.
Perbedaan yang paling krusial terletak pada rasa dan keunggulan fungsionalnya saat diolah menjadi makanan. Kedelai impor sangat diminati untuk produksi tahu karena karakteristik bijinya mampu menghasilkan rendemen atau volume hasil olahan yang tinggi dan padat.
Namun, untuk urusan cita rasa dan organoleptik, kedelai lokal jauh lebih unggul karena memiliki rasa yang lebih manis, gurih alami, serta aroma yang lebih segar, sehingga menjadi primadona dan sangat disukai oleh para pengrajin tempe tradisional.
Kenaikan harga kedelai impor ke angka Rp 11.000/kg ini membawa efek domino yang nyata. Demi menghindari kenaikan harga jual tahu dan tempe di pasar yang sensitif bagi konsumen, para pengrajin terpaksa melakukan strategi “tahu-tempe seukuran kartu ATM” alias memperkecil ukuran produk.
Para produsen tahu dan tempe skala rumahan harus rela gigit jari karena keuntungan mereka tergerus demi mempertahankan kelangsungan produksi dan menjaga loyalitas pelanggan. Dampak yang terasa, beberapa sudah mulai merumahkan karyawan.
Sebagai lauk pokok harian jutaan masyarakat, fluktuasi harga tahu dan tempe berkontribusi langsung pada tekanan inflasi barang pokok (volatile foods) di tingkat nasional.(*)
BACA JUGA: Harga Kedelai Import Naik, Babi Cina yang Disalahkan






