Moron

Kalah Saing dari Vietnam, Dua Raksasa Komponen Otomotif Jepang di Jatim Siap Angkat Kaki

Industri otomotif khususnya produsen komponen mulai ancang-ancang pindahkan produksi ke Vietnam. Badai PHK pun menghantui. Ada masalah apa dengan Indonesia?

WWW.JERNIH.CO – Sektor manufaktur nasional kembali dikejutkan oleh kabar kurang sedap dari industri otomotif. Dua pabrik komponen otomotif raksasa asal Jepang yang selama ini beroperasi di Jawa Timur dilaporkan tengah bersiap-siap untuk angkat kaki dan memindahkan sebagian lini produksinya keluar dari Indonesia.

Isu ini menjadi alarm keras bagi ekosistem industri dalam negeri, mengingat potensi dampaknya yang sangat masif terhadap penyerapan tenaga kerja dan stabilitas ekonomi daerah.

Hingga saat ini, identitas resmi dari kedua raksasa komponen otomotif tersebut masih dirahasiakan oleh pihak serikat pekerja maupun korporasi demi menjaga kelancaran proses perundingan internal agar tidak berjalan alot. Namun, Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, telah memberikan rincian valid mengenai profil kedua perusahaan tersebut.

Kedua pabrik tersebut beroperasi dengan inisial PT J dan PT S. Keduanya memiliki fasilitas produksi besar yang berbasis di wilayah Pasuruan dan Mojokerto, Jawa Timur.

Karena berstatus sebagai perusahaan manufaktur komponen utama berskala besar, rencana relokasi ini mengancam ribuan buruh lokal dengan risiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal.

Keputusan prinsipal pusat di Jepang untuk memindahkan sebagian investasinya ke negara tetangga tidak terjadi secara mendadak. Berdasarkan hasil mitigasi dan informasi awal, terdapat beberapa faktor krusial yang melatarbelakangi langkah strategis tersebut.

Manajemen pusat di Jepang sedang melakukan efisiensi fungsional di kawasan Asia Tenggara. Mereka mulai mengalihkan fokus bisnis globalnya dari komponen kendaraan konvensional (bensin) ke ekosistem kendaraan listrik (Electric Vehicle).

Di sisi lain industri dan ekosistem mobil listrik di Indonesia dianggap belum cukup kompetitif bagi para investor komponen tertentu. Sebaliknya, Vietnam dipandang jauh lebih siap karena memiliki peta jalan (roadmap) industri otomotif nasional yang sangat jelas dan terukur hingga tahun 2035.

Vietnam secara konsisten memberikan kepastian regulasi serta stimulus yang agresif bagi rantai pasok EV, mulai dari pembebasan biaya registrasi kendaraan listrik hingga pemotongan pajak bagi industri komponen pendukung.

Salah satu kendala laten yang dikeluhkan investor adalah lambatnya birokrasi di Indonesia akibat ego sektoral. Rantai industri EV di Indonesia harus melewati banyak pintu kementerian yang berbeda (ESDM untuk tambang, Kemenperin untuk manufaktur, dan BKPM untuk investasi), sehingga proses pengambilan keputusan berjalan lambat.

Situasi perang yang berkepanjangan di berbagai belahan dunia memaksa prinsipal di Jepang untuk menata ulang peta investasi mereka demi menekan biaya operasional global.(*)

BACA JUGA: Pasar Otomotif Indonesia 2025: Dominasi Jepang Terusik Invasi Brand Listrik

Back to top button