Tata Niaga Telur Sebelum “Ditolong” MBG

MBG mungkin menyelamatkan para peternak telur. Tak ada lagi kisah kelebihan pasokan. Semua produk terserap pasar dalam jumlah ribuan ton.
WWW.JERNIH.CO – Sebelum ada program Makan Bergizi Gratis (MBG), tata niaga telur nasional berjalan secara normal dan mandiri selama puluhan tahun. Pasar memiliki mekanisme alami untuk menyeimbangkan pasokan (supply) dan permintaan (demand).
Namun, kata “normal” dalam industri perunggasan sebelum era MBG sebenarnya tidak luput dari badai. Karakteristik utama tata niaga telur lama adalah siklus harga yang sangat fluktuatif dan ekstrem, atau yang sering disebut peternak sebagai siklus “siklus pasang surut” (boom and bust).
Sebelum pemerintah masuk sebagai pembeli besar (offtaker) lewat MBG, alur distribusi telur sepenuhnya dikendalikan oleh sektor swasta dan pasar bebas.
Rantai pasok konvensional sebelum adanya intervensi program besar, di mana alur distribusi dimulai dari peternak rakyat atau integrator yang kemudian disetorkan kepada pengepul besar (broker/bandar) sebagai pemegang kendali utama dalam menentukan harga harian berbasis daerah sentra seperti Blitar.
Dari para pengepul, komoditas telur didistribusikan ke agen atau distributor wilayah, lalu diteruskan ke pedagang pengecer di pasar tradisional maupun toko kelontong, hingga akhirnya komoditas yang sangat fluktuatif ini sampai ke tangan konsumen akhir seperti rumah tangga dan pelaku industri kuliner atau kue dengan margin harga yang sudah terpaut jauh dari harga asli di tingkat kandang.
Dalam sistem ini, posisi tawar peternak rakyat sangat lemah. Karena telur adalah barang yang cepat rusak (hanya bertahan 14-21 hari), peternak tidak bisa menahan barang. Mau tidak mau, mereka harus mengikuti harga yang didekte oleh para bandar/broker besar setiap harinya.
Sebelum ada MBG, fluktuasi harga telur sangat mudah ditebak karena murni mengikuti kalender sosial-keagamaan masyarakat. Siklus “normal” tahunan tersebut biasanya terbagi menjadi dua fase:
Harga telur akan melonjak tinggi melampaui Harga Acuan Pemerintah (HAP) pada momen-momen jelang Ramadan dan Idulfitri, konsumsi rumah tangga dan industri kue kering meningkat tajam.
Berlanjut pada bulan Mulud / Ruwah (Kalender Jawa) di mana banyak digelar hajatan, pernikahan, dan festival budaya di mana telur menjadi bahan baku utama hidangan atau hantaran.
Tak ketinggalan pada Natal dan Tahun Baru (Nataru), yang biasanya bersamaan dengan penyaluran bantuan sosial (Bansos) reguler seperti PKH/BPNT yang salah satu komoditas wajibnya adalah telur.
Sebaliknya masa paceklik dimana harga telur akan anjlok drastis di bawah biaya produksi pada saat bulan Suro / Muharram. Masyarakat menghindari menggelar hajatan besar, sehingga serapan pasar retail mendadak drop.
Termasuk pasca-Lebaran di mana konsumsi masyarakat kembali normal atau bahkan menurun karena uang rumah tangga dialokasikan untuk biaya masuk sekolah anak.
Meskipun terlihat normal karena digerakkan supply-demand, sistem lama ini sangat rentan terhadap krisis oversupply. Indonesia mengalami pertumbuhan industri peternakan yang sangat pesat. Perusahaan-perusahaan integrator besar terus meningkatkan kapasitas produksi mereka. Akibatnya, produksi telur nasional hampir selalu surplus dibanding daya beli organik masyarakat.
Sebelum ada MBG, jika terjadi kelebihan pasokan, krisis yang terjadi sangat menyakitkan bagi peternak. Tak jarang harga di kandang jatuh hingga Rp14.000 – Rp16.000/kg (sementara biaya pakan terus naik). Kalau ingat, bagaimana aksi demo peternak di Blitar Jawa Timur yang membagikan telur gratis di jalanan atau bahkan memecahkan telur sebagai bentuk protes karena harga hancur.
Untuk menstabilkan harga, peternak terpaksa melakukan “afkir dini”, yaitu menyembelih ayam petelur yang sebenarnya masih produktif agar jumlah produksi telur di pasar berkurang secara paksa.
Bila mencermati mekanisme pasar seperti ini, sesungguhnya ada persoalan dalam proses produksi hingga konsumsi telur di Indonesia. Apa yang disebut normal sesungguhnya “tidak normal”. Alias ada kerentanan yang tidak stabil.
Lalu, membuat jalan pintas dengan menggelar MBG yang dinarasikan positif, tetapi sesungguhnya ini hanyalah sebuah obat penyembuh sementara. Ketika MBG libur atau kelak mendadak dibubarkan, kehidupan peternak telur akan kembali seperti awal, ber-rollercoaster lagi.(*)
BACA JUGA: Nasib Telur, Harus Naik Harga Gara-gara MBG Libur






