Mengenal Fistula Perianal, Penyakit di Balik Pendarahan Nadiem Makarim

Di balik proses sidangnya, mantan Mendikbud Nadiem Makarim berjuang melawan fistula perianal parah hingga harus naik meja operasi berkali-kali. Mengapa obat saja tidak cukup untuk menyembuhkan saluran abnormal yang kaya pembuluh darah ini?
WWW.JERNIH.CO – Kondisi kesehatan mantan Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, tengah menjadi sorotan publik di tengah proses persidangan yang sedang dihadapinya.
Usai pembacaan dakwaan oleh JPU ia harus melakukan operasi. Terungkap bahwa ia menderita fistula perianal (atau fistula ani) yang cukup parah. Kondisi ini bahkan memicu komplikasi serius berupa pendarahan berulang dan nyeri kronis, yang membuatnya harus berkali-kali naik ke meja operasi.
Secara medis, fistula perianal bukanlah gangguan kesehatan biasa. Menurut anatomi medis, fistula perianal adalah terbentuknya sebuah saluran atau terowongan kecil abnormal yang menghubungkan bagian dalam usus besar/saluran anus ke permukaan kulit di sekitar anus.
Penyakit ini paling sering diawali dari adanya infeksi pada kelenjar anus yang kemudian berkembang menjadi kumpulan nanah (abses). Ketika abses tersebut pecah—baik secara alami maupun melalui tindakan medis—namun tidak sembuh dan tidak menutup dengan sempurna, maka akan terbentuk saluran menetap yang terus-menerus mengeluarkan cairan.
Pendarahan serius seperti yang dialami oleh Nadiem Makarim terjadi karena area perianal kaya akan pembuluh darah. Ketika saluran fistula mengalami peradangan kronis, terinfeksi kembali (reinfeksi), atau tergesek akibat aktivitas fisik dan tekanan saat buang air besar, dinding saluran yang rapuh tersebut akan pecah. Akibatnya, timbullah pendarahan mendadak, keluarnya nanah berbau tidak sedap, serta rasa nyeri berdenyut yang sangat hebat.
Banyak orang mengira infeksi di area anus bisa disembuhkan secara total hanya dengan meminum antibiotik atau mengoleskan salep. Namun, bagi pengidap fistula perianal, tindakan operasi adalah jalan utama yang tidak dapat dihindari.
Fistula berbentuk seperti terowongan pipa yang sudah menetap di bawah kulit. Obat-obatan atau antibiotik hanya mampu meredakan peradangan atau membunuh bakteri untuk sementara waktu, tetapi tidak bisa menghilangkan atau menutup struktur saluran fisik tersebut. Tanpa pembedahan untuk membuka atau menutup jalurnya, saluran akan tetap ada dan terus menjadi sumber infeksi.
Selama terowongan tersebut masih terbuka, kuman dan kotoran dari dalam anus dapat dengan mudah masuk dan terjebak di dalamnya. Hal ini akan memicu terbentuknya abses (kantung nanah) baru secara terus-menerus. Infeksi kronis ini lama-kelamaan dapat menyebar ke jaringan sehat di sekitarnya dan menurunkan kualitas hidup penderitanya karena rasa lelah akibat peradangan jangka panjang.
Pada kasus yang berat atau kronis, fistula bisa berkembang menjadi kompleks dan membentuk cabang-cabang saluran baru di bawah kulit. Operasi diperlukan agar dokter spesialis bedah dapat mendeteksi seluruh jaringan fistula secara mendetail, membersihkan infeksi, dan memastikan tidak ada sisa cabang saluran yang tertinggal. Jika ada bagian kecil saja yang tertinggal, penyakit ini dipastikan akan kambuh lagi.
Di sekitar anus terdapat otot sfingter yang berfungsi penting untuk menahan dan mengontrol buang air besar. Tindakan operasi yang terencana dan hati-hati oleh tim medis bertujuan untuk memperbaiki saluran fistula tanpa merusak otot krusial tersebut, sehingga pasien terhindar dari risiko inkontinensia fekal (ketidakmampuan menahan BAB).
Kasus yang menimpa Nadiem Makarim menunjukkan bahwa fistula perianal bisa menjadi sangat kompleks. Berdasarkan keterangan pihak keluarga dan kuasa hukumnya, Nadiem tercatat sudah menjalani operasi hingga lima kali.
Pasca-operasi fistula perianal, pasien memang membutuhkan waktu pemulihan yang cukup lama—berkisar antara beberapa minggu hingga bulan. Selama masa penyembuhan, pasien wajib berada di lingkungan yang steril untuk mencegah reinfeksi, melakukan perawatan luka dengan sangat telaten, serta menerapkan pola makan tinggi serat dan hidrasi yang cukup demi mencegah sembelit yang dapat memperparah luka operasi.(*)
BACA JUGA: Jaksa Tuntut Nadiem Makarim 18 Tahun Penjara dan Uang Ganti Triliunan




