POTPOURRIVeritas

Perundingan Iran dan Amerika Gagal, Apa Saja yang Mengganjal?

Tiga isu besar ditengarai menjadi biang dari ketidaksepakatan perundingan. Lagi-lagi tidak tertemu jalan tengah. Setidaknya ada tiga hal yang mengganjal jalannya negosiasi.

WWW.JERNIH.CO – Perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan setelah maraton negosiasi selama 21 jam.Ajang yang dikenal dengan nama Islamabad Talks.  Kegagalan ini menjadi titik balik krusial di tengah upaya global untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah, menyisakan ketidakpastian mendalam bagi stabilitas kawasan.

Kegagalan perundingan ini dipicu oleh tembok ketidakpercayaan yang tebal serta perbedaan fundamental pada tiga isu strategis.

Program Nuklir dan Persyaratan AS

Pihak Amerika Serikat memberikan “penawaran akhir” yang sangat ketat, menuntut Iran untuk secara permanen menghentikan pengayaan uranium dan menghancurkan cadangan uranium tingkat tinggi mereka (sekitar 900 pon).

AS menginginkan komitmen jangka panjang yang tidak bisa diganggu gugat, sementara Iran menganggap tuntutan ini sebagai pelanggaran kedaulatan.

 Kontrol Selat Hormuz

Isu maritim menjadi duri utama dalam pertemuan ini. Iran menegaskan kontrol strategis mereka atas Selat Hormuz, termasuk wacana pengenaan biaya transit bagi kapal-kapal internasional.

Sebaliknya, AS bersikeras menjaga kebebasan navigasi global dan menolak klaim Iran, menganggapnya sebagai ancaman terhadap jalur pasokan energi dunia.

Kompensasi Perang dan Aset yang Dibekukan

Iran menuntut pencairan aset senilai 27 miliar dolar yang saat ini dibekukan di berbagai bank internasional (seperti di Qatar). Selain itu, Teheran menuntut ganti rugi (reparasi) atas kerusakan akibat konflik sebelumnya. AS menolak mentah-mentah tuntutan keuangan ini sebelum ada kepastian nuklir.

Pertemuan di Islamabad ini merupakan salah satu keterlibatan diplomatik tingkat tertinggi dalam beberapa dekade terakhir, melibatkan tokoh-tokoh kunci dari kedua belah pihak dan tuan rumah.

Pertemuan tingkat tinggi di Islamabad ini dihadiri oleh jajaran tokoh kunci yang merepresentasikan kekuatan politik utama dari masing-masing negara. Dari pihak Amerika Serikat, delegasi dipimpin langsung oleh Wakil Presiden JD Vance, yang didampingi oleh Utusan Khusus Steve Witkoff serta Jared Kushner, mantan Penasihat Senior yang memiliki rekam jejak panjang dalam diplomasi Timur Tengah.

Kehadiran figur-figur ini menunjukkan betapa seriusnya Washington dalam menentukan arah kebijakan luar negerinya. Sementara itu, Iran mengutus delegasi berpengalaman yang terdiri dari Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan Wakil Menteri Luar Negeri Majid Takht Ravanchi, yang dikenal sebagai negosiator ulung dalam urusan internasional.

Sebagai fasilitator komunikasi yang menjembatani kedua belah pihak, Pakistan mengerahkan kekuatan penuh dari kepemimpinan sipil dan militernya. Perdana Menteri Shehbaz Sharif bertindak sebagai tuan rumah utama untuk memastikan kelancaran protokol diplomatik.

Di sisi keamanan dan intelijen, keterlibatan militer Pakistan sangat dominan dengan hadirnya Panglima Angkatan Darat Jenderal Syed Asim Munir serta Letjen Asim Malik selaku Kepala ISI (Inter-Services Intelligence). Kehadiran para petinggi keamanan ini menegaskan bahwa perundingan tersebut tidak hanya membahas masalah politik luar negeri, tetapi juga menyangkut stabilitas keamanan regional yang sangat krusial bagi posisi Pakistan sebagai mediator.

Setelah negosiasi dinyatakan buntu, Presiden AS Donald Trump menyatakan melalui media sosial bahwa kegagalan tersebut “tidak membuat perbedaan” karena operasi militer AS di kawasan tetap berjalan. Di sisi lain, Iran menyebut Washington melakukan “tuntutan berlebihan” dan tidak realistis.(*)

BACA JUGA: Pembicaraan Damai AS-Iran di Pakistan Gagal, GREAT Institute Soroti Inkonsistensi Barat

Back to top button