Puisi

Sang Dalang Tanpa Singgasana

Tengkorak kaisar tua itu masih bergetar di balik bayang-bayang, mendesiskan nafsu kekuasaan yang tak pernah selesai dimakamkan.

Ia tak sudi menjadi abu mati, maka ditanamnya benih sang pangeran tepat di puncak tahta termegah sebagai mata-mata berdarah dingin.

Di atas kepala rakyat yang kelaparan, pangeran sulung duduk menjadi pengawas bayangan, siap menerkam jika para abdinya mulai menyimpang dari skenario sang ayah.

Semua gerak-gerik istana diganti dengan panggung sandiwara, tempat citra manis dipoles tebal untuk menutupi busuknya ambisi keluarga.

Tak puas dengan satu bidak, dikirimnya anak kedua menunggangi kapal partai tanpa arah yang limbung dan digulung ombak kecurigaan rakyat.

Partai tanpa kompas itu ia paksakan berlayar, menawarkan barang rongsokan politik yang wajahnya buram dan haluannya senantiasa berganti rupa.

Rakyat tertawa geli sekaligus jijik melihat godaan palsu dari wadah politik yang tak pernah jelas bela siapa dan mau ke mana.

Namun sang bekas raja terus meniupkan sisa-sisa nafas nafsunya, menebar racun peninggalan aura kekuasaan yang kian membusuk.

Ketika para pelayan negara memeras keringat mencuci piring-piring kotor sisa pemerintahannya, ia justru tertawa di balik layar.

Ia menyelinap di tikungan jalan, mencuri panggung di saat napas bangsa ini terengah-engah dihimpit krisis ekonomi yang makin membakar meja makan.

Anak-anak tak bisa sekolah dan keadilan terkubur dalam-dalam, dirusak oleh para cecurut hukum yang dulu ia pelihara sendiri saat menjabat.

Di tengah jerit tangis jelata yang tercekik harga, ia tak peduli dan justru sibuk menata batu bata kerajaan pribadinya.

Jerat hukum yang ia longgarkan dahulu kini menjarahi ruang hidup rakyat, sementara sang dalang asyik bersolek dengan jubah masa lalu.

Tanpa rasa malu sedikit pun, disandangkannya mahkota-mahkota adat buatan dan gelar kaisar palsu yang disodorkan para penjilat daerah.

Ia mengangguk jumawa seolah jerih payahnya pantas disembah, padahal yang tersisa hanyalah jejak rakus yang belum tuntas.

Dada kerempengnya menggelembung bangga menerima penghormatan semu, bertingkah bak pahlawan di atas reruntuhan moral bangsa.

Jalan dinasti dibangunnya kian lempang, menggunakan tulang-tulang rakyat sebagai fondasi bagi anak dan cucunya kelak.

Ia seret seluruh anggota keluarganya ke arena politik, mengubah negara menjadi ladang bisnis milik trah sendiri.

Pikiran piciknya tak pernah mampu melihat ibu pertiwi, sebab di matanya negeri ini hanyalah warisan milik nenek moyangnya.

Biarlah sejarah mencatat sang mantan raja sebagai pemimpi rakus yang menukar kehormatan bangsa demi piala dinasti yang rapuh.(*)

Back to top button