Solilokui

Catatan Harian Covid-19 (2)

Dokter dan perawat sangat profesional. Memeriksa saya dengan teliti dan ramah. Dokter memberikan obat untuk demam dan sakit kepala, dan lagi-lagi itu gratis karena saya ber-KTP DKI.

Oleh  : Dian Islamiati Fatwa

JERNIH– Saya memang hanya memberitahu beberapa orang bahwa saya positif Covid, karena saya sendiri agak overhelmed dan mencoba menenangkan diri dengan berita ini.

Dian Islamiati Fatwa

Seperti mendapatkan vonis mati. Terbayang wajah kawan-kawan atau orang yang saya kenal meninggal dunia karena covid dengan cepat. Tanpa gejala, mengalami demam dan kemudian masuk ICU, lalu terkabar meninggal dunia.

Beberapa minggu terakhir memang saya mimpi bertemu dengan orang-orang yang telah meninggal. Sempat cerita ke Mucis, sepupu saya, bertemu almarhumah ibunya, tante saya, Emi. Saya masuk ke kamar Emi, namun tante saya menyuruh saya segera keluar.

“Aku capek Mi, pengen istirahat di sini.”

“Lho aku sudah sediakan makanan di kamarmu, ayo keluar sana. Ada sirsak, mangga, alpukat dan rambutan, kesukaanmu,” rayu Emi dalam mimpi. Saya akhirnya keluar dengan terpaksa dari kamar Emi meskipun sempat merebahkan diri mulet-mulet di tempat tidurnya.  Meskipun ini hanya bunga tidur, tetap saja ada rasa gelisah.

Dokter Fitri menyarankan saya bersiap-siap karena ambulance akan menjemput menuju Wisma Atlet agar segera diisolasi.

Considering virus ini cukup agresif daya transmisinya, saya mengamini saja apa yang disarankan Dokter Fitri. Menginap di Wisma Atlet adalah upaya memutus mata rantai, saya juga tidak ingin orang di rumah tertular.  Lagi pula tenaga medis tersedia di Wisma Atlet, akan lebih tertangani dengan cepat bila terjadi apa-apa.

Ketum PAN, Zulkifli Hasan menelpon dan memastikan saya harus segera mendapat perawatan rumah sakit. Wajar bila Bang Zul khawatir, beberapa jam sebelum meninggal, ayah sempat menitipkan saya ke Bang Zul. Beliau agak tenang setelah saya beritahu bahwa saya sedang menunggu ambulance.

Dua dokter dari Wisma Atlet menghubungi, memberitahu telah  tersedia  kamar berkat bantuan Teh Netty Prasetya, anggota komisi IX DPR Fraksi PKS dari jaringan Maju Perempuan Indonesia (MPI)

Saya baru mengetahui dari Teh Netty, setelah dijemput ambulance, ternyata masih harus menunggu untuk mendapatkan kamar di Wisma Atlet. 

Pada saat yang sama Pemprov DKI juga memberikan perhatian besar. Dokter Fitri dari Puskesmas Pejaten Barat berkordinasi dengan Dinkes DKI, sehingga akhirnya saya dirawat di RS Siloam. Pertimbangannya karena dekat dari rumah, hanya 2 km. Tentu memudahkan bagi keluarga untuk mengirim makanan atau kebutuhan lainnya.

Everything was in place. Tuhan begitu menyayangi saya. Banyak kawan membantu sehingga saya mendapat perawatan dengan cepat.

Percaya tidak, semuanya ini saya awali dari pemeriksaan di Puskesmas, dan ini gratis-tis. Tadinya saya booking PCR drive-through di Pasar Minggu. Biayanya sekitar  hampir 1,4 juta. Tapi ketika saya datang, nurse sudah berganti APD. Saya terpaksa reschedule dan ternyata sistem di apps terdapat gangguan sehingga saya tidak bisa reschedule.

Akhirnya saya telpon Zita Anjani, wakil ketua DPRD DKI Jakarta karena tidak tahan sakit kepala dan demam. Keesokan hari saya melakukan pemeriksaan swap PCR di Puskesmas Pasar Minggu.

Dokter dan perawat sangat profesional. Memeriksa saya dengan teliti dan ramah. Dokter memberikan obat untuk demam dan sakit kepala, dan lagi-lagi itu gratis karena saya ber-KTP DKI.

Saya sedikit tidak percaya fasilitas kesehatan gratis di Indonesia, tapi ini saya alami. Di Australia pun, meskipun saya ambil fasilitas ‘Bulk Billing’ (gratis fasilitas kesehatan) dari klinik terdekat, tetap saja saya harus membayar obat yang diresepkan dokter.

Sebelum dijemput ambulance, Dokter Fitri dari Puskesmas Pejaten Barat datang ke rumah lengkap dengan baju astronot bersama seorang nurse. Memeriksa kondisi terakhir sebelum dibawa ke rumah sakit.

Jujur, saya agak terintimidasi dengan penampakan Dokter Fitri yang mengenakan baju astronot itu, penyakit yang saya alami adalah penyakit serius.

Mereka memang harus mengenakan APD agar tidak tertular. Meskipun overhelmed saya menerima dengan ikhlas cobaan ini.

Di Australia, dokter biasa mendatangi  pasien bila kondisi tidak memungkinkan, misalnya lansia, tinggal sendiri dan  tubuh tidak bisa digerakkan. Dan itu gratis.

Saya memang berumur, tapi belum lansia-lah, zumba satu jam masih kuat. Tetap saja pelayanan  setingkat Puskesmas terhadap pasien yang masih bisa berjalan dan bergerak seperti saya membuat saya nggumun bin kagum.

Bayangan sosok dokter Indonesia yang paternalistik serta rumah sakit yang morotin pasien, langsung runtuh setelah bertemu Dokter Fitri yang ramah, santun, teliti dan membuat pasien nyaman.

Saya berulang-kali keluar masuk rumah sakit di berbagai negara. Mulai dari Phnom Penh, Bangkok, Tokyo dan Melbourne. Semuanya rumah-sakit swasta yang bayarnya juga bikin kantong ambrol bila tidak punya asuransi.

Di Puskesmas Pasar Minggu, tersedia layanan 24 jam, daftar bisa online, ada laboratorium, unit rawat inap untuk melahirkan, akupuntur, pelayanan diabetes dan pelayanan gangguan indera. Lebih besar dari klinik Bulk Billing di Prahran ataupun di Toorak Melbourne yang sering saya datangi.

Dari sisi pelayanan kesehatan, saya merasakan standard medical staffs Puskesmas Jakarta sudah cukup maju. Tak beda dengan pelayanan yang saya alami ketika saya opname di RS Bumrungrad di Bangkok. Bedanya tentu ada ruang AC, wangi, dispenser air minum dan majalah di setiap sudut ruangan.

Melihat ambulance datang menjemput, hati saya mulai ngak ngek ngok ciut. Sopir dan Putra, petugas medis menggunakan APD lengkap baju astronot.

Dengan tenang Putra menjelaskan what to expect sebelum masuk ke ambulance. Di rumah sakit mana, harus melalui pemeriksaa di IGD dan persetujuan dokter Paru sebelum masuk kamar.  Sangat profesional.

Sebagai pasien covid, jelas virus di tubuh seperti ribuan pisau  yang tak terlihat dan siap menghujam merciless ke tubuh Putra di depan saya.

Rasanya tak ingin mendekat, saya punya kans menularkan penyakit yang punya daya bunuh tinggi.  Tapi Putra tampak tenang, tahu resiko yang dihadapi dan bekerja dengan kesungguhan.

Di dalam ambulance sudah ada empat pasien lainnya. Saya mencoba menyapa mereka, tapi semuanya menunduk. Tampak cemas dan tegang.

Seperti di film-film, ambulance berjalan dengan sirene nguing-nguing. Sebagian mobil minggir memberi jalan, suara sirene ini seperti mengingatkan jarak kematian sudah begitu dekat…it’s so real… Tegang man, tak satu pun dari kami bicara. Berbagai macam pikiran bersliwiran. Melihat gedung Rumah Sakit Siloam Mampang, pertanyaan yang muncul di benak saya, can I make it?

Saya menolak menggunakan kursi roda, karena saya bisa berjalan normal memasuki ruang IGD di basement. Putra menunggu saya dengan sabar, memastikan hand-over ke dokter jaga berjalan dengan baik.

Overall, very impressive. Credit to Dokter Widyastuti, kepala Dinas Kesehatan DKI dan Doni Monardo, ketua Satuan Tugas Penanganan Covid. They deserve it.

Dokter dan semua petugas medis bekerja sangat profesional, tenang dan sabar menangani pasien covid. Mendapat pelayanan seperti ini sudah cukup membantu pasien tenang, I’m so confident that I’ll be in good hands with them.

Tentu ini berpengaruh membantu proses penyembuhan saya dalam beberapa hari mendatang. Insya Allah I can make it, I can take it and we can do the impossible.

Dada mulai sesek nih, rehat dulu ya, pengen merem bentar. Ntar sambung lagi. [ bersambung]

Duren Tiga, 16 Oct ’20

Back to top button