SolilokuiVeritas

Rasa Otentik Nusantara: Mengapa Narasi Kita Kalah dari Branding Impor?

Jika narasi yang menghancurkan pangan lokal kita, maka narasi pula yang harus membangkitkannya kembali. Gerakan Locavore Indonesia memiliki mandat penting untuk memenangkan kembali “perang pikiran” ini. Kita harus menggeser cerita budaya pangan secara radikal: dari yang sebelumnya “Impor adalah Prestise” menjadi “Lokal adalah Keren, Sehat, dan Patriotik”.

Oleh     :  Widiana Safaat*

JERNIH–Jika kita berbicara tentang kekayaan rasa, Indonesia seharusnya menjadi raja dunia. Lidah kita diberkahi oleh ratusan jenis rempah, umbi-umbian yang manis, dan resep leluhur yang tak ternilai harganya. Namun, mengapa di pusat-pusat perbelanjaan, anak-anak muda kita lebih rela mengantre panjang demi sepotong roti berlapis keju impor atau ayam goreng cepat saji asal Amerika?

Jawabannya sederhana: kita tidak sedang kalah dalam kompetisi rasa, kita sedang kalah telak dalam “perang cerita”. Pangan lokal kita kekurangan promosi publik yang baik. Kita biarkan makanan-makanan otentik Nusantara teronggok bisu di pasar tradisional, sementara produk pangan impor terus-menerus meneriakkan ceritanya lewat baliho raksasa, iklan televisi yang memukau, dan tayangan media sosial yang menggugah selera.

Kekuatan ajaib “narrative economics”

Untuk memahami mengapa kita begitu mudah dirayu, kita perlu menengok teori peraih Nobel Ekonomi, Robert Shiller. Pada tahun 2019, Shiller memperkenalkan konsep Narrative Economics (Ekonomi Narasi). Shiller membongkar satu rahasia besar: keputusan ekonomi manusia (termasuk apa yang kita beli untuk dimakan) jarang didasari oleh logika murni atau hitungan nutrisi. Keputusan kita digerakkan oleh cerita-cerita atau narasi yang viral di masyarakat.

Ketika sebuah cerita menyebar luas seperti virus, cerita itu akan menciptakan ilusi kebenaran baru. Industri pangan global sangat memahami teori ini. Mereka tidak hanya menjual tepung gandum atau susu; mereka menjual cerita tentang “gaya hidup modern”, “kepraktisan”, dan “kesuksesan”. Ketika narasi ini diulang-ulang setiap hari, otak kita meresponsnya dengan mengubah pola konsumsi kita, dari yang awalnya mengonsumsi keberagaman sumber pangan lokal, beralih menjadi pemuja beras dan gandum impor.

Miskonsepsi pangan “kampungan”

Dampak dari narasi industri global ini sangat menghancurkan identitas kita. Secara perlahan, pikiran masyarakat dicuci untuk percaya bahwa pangan tradisional itu kuno dan tidak sehat. Makanan olahan dari pabrik dianggap lebih higienis dan bergengsi, sementara singkong, sagu, atau tiwul diberi label sebagai makanan orang miskin atau makanan masa krisis.

Inilah penjajahan kebudayaan yang paling halus. Kita melupakan fakta bahwa pangan lokal asli Nusantara jauh lebih padat gizi dan cocok dengan genetika tubuh kita. Kita menukar kedaulatan pangan bangsa ini hanya demi ilusi “keren” yang ditanamkan oleh mesin pemasaran korporasi transnasional. Ketika kita percaya pada narasi mereka, secara otomatis uang di dompet kita akan mengalir keluar negeri, meninggalkan petani kita dalam kemiskinan.

Merebut kembali narasi Nusantara

Jika narasi yang menghancurkan pangan lokal kita, maka narasi pula yang harus membangkitkannya kembali. Gerakan Locavore Indonesia memiliki mandat penting untuk memenangkan kembali “perang pikiran” ini. Kita harus menggeser cerita budaya pangan secara radikal: dari yang sebelumnya “Impor adalah Prestise” menjadi “Lokal adalah Keren, Sehat, dan Patriotik”.

Kita harus berhenti membingkai pangan lokal sebagai sekadar alternatif yang murah. Pangan otentik Nusantara harus diangkat menjadi pilihan premium dan etis. Saat Anda memotret dan menceritakan betapa lezatnya sayur musiman dari petani desa sebelah di media sosial Anda, Anda sedang mempraktikkan Narrative Economics yang positif. Ingat, setiap suapan di piring Anda adalah pernyataan identitas. Mari kita rebut kembali kebanggaan itu, satu cerita pada satu waktu. []

*Pemerhati Human Centered Design & Systemic Design

Back to top button