China, Negeri yang Menghafal Masa Lalu untuk Menaklukkan Masa Depan

China seolah hendak mengatakan: kemajuan tidak harus dibangun dengan menghancurkan ingatan. Justru dengan mengetahui dari mana ia datang, sebuah bangsa dapat menentukan dengan lebih percaya diri ke mana ia hendak berjalan.
Oleh : Darmawan Sepriyossa
JERNIH— Ada sebuah paradoks yang indah yang segera menyergap siapa pun yang datang ke China: negeri ini seperti berlari lebih cepat daripada sebagian besar dunia, tetapi nyaris tak pernah benar-benar meninggalkan masa lalunya.
Kereta cepat melesat menembus kota-kota dalam kecepatan ratusan kilometer per jam. Pembayaran dilakukan hanya dengan mengarahkan telepon seluler. Gedung-gedung menjulang dengan bentuk yang seolah dipinjam dari imajinasi para penulis fiksi ilmiah. Jalan raya lebar, kendaraan listrik, kamera digital, kecerdasan buatan, serta pusat-pusat perdagangan raksasa menyatakan dengan lantang bahwa China bukan lagi negeri yang sedang mengejar masa depan. Dalam banyak hal, ia sudah berada di sana.
Namun, beberapa langkah dari segala yang futuristik itu, berdirilah istana berumur enam abad, taman kekaisaran, makam para pahlawan, pagoda yang miring dimakan usia, lorong-lorong kota tua, serta tembok panjang yang membelah gunung-gunung. Semua dirawat, dipagari, dipugar, diceritakan kembali, lalu dikunjungi jutaan orang.
China seolah hendak mengatakan: kemajuan tidak harus dibangun dengan menghancurkan ingatan. Justru dengan mengetahui dari mana ia datang, sebuah bangsa dapat menentukan dengan lebih percaya diri ke mana ia hendak berjalan.
Yue Fei: Kesetiaan yang Menolak Dikuburkan
Namun, dari seluruh tempat yang saya kunjungi di Hangzhou, Makam Yue Fei mungkin paling kuat menunjukkan bagaimana ingatan sejarah dirawat untuk membentuk moral publik.
Yue Fei adalah jenderal Dinasti Song Selatan yang hidup pada abad ke-12. Ia dikenal karena keberaniannya menghadapi pasukan Jin. Akan tetapi, kemenangan-kemenangannya di medan perang tak mampu melindunginya dari intrik istana. Ia dipanggil pulang, dipenjarakan, dituduh dengan dakwaan yang kabur, lalu dihukum mati pada 1142.

Tapi kebenaran, kata orang tua, akan selalu menemukan jalan sendiri. Nama Yue Fei kemudian dipulihkan. Makam dan kuil dibangun untuk menghormatinya. Hampir sembilan abad telah berlalu, tetapi orang-orang masih datang: menundukkan kepala di hadapan seorang jenderal yang kalah oleh politik, tetapi menang dalam ingatan sejarah.
Di depan makam Yue Fei terdapat patung Qin Hui (Cakwe) dan istrinya, Wang Shi. Keduanya digambarkan berlutut, tangan terikat, menghadap makam sang jenderal. Qin Hui dikenang sebagai pejabat yang berperan dalam penangkapan dan kematian Yue Fei.
Pemandangan itu menyimpan pembalikan yang sempurna. Yue Fei telah lama meninggal, tetapi kehormatannya berdiri tegak. Qin Hui (Cakwe) pernah memegang kekuasaan, tetapi dalam ingatan rakyat China ia dipaksa berlutut sepanjang zaman. Politik mungkin dapat memenangkan fitnah untuk sementara, tetapi sejarah mempunyai pengadilannya sendiri.
Kebencian rakyat kepada Qin Hui bahkan dipercaya menjelma menjadi makanan yang kini telah mendunia: youtiao, yang di Indonesia lebih dikenal sebagai cakwe. Menurut legenda yang hidup di Hangzhou, setelah mendengar Yue Fei dibunuh, seorang penjual makanan mengambil dua potong adonan. Ia membentuknya menyerupai Qin Hui dan istrinya, merekatkan keduanya, lalu mencemplungkannya ke dalam minyak panas. Makanan itu mula-mula disebut you zha Hui—kurang lebih berarti “Qin Hui yang digoreng dalam minyak”.
Warga kemudian membeli, menggoreng, menggigit, serta memakannya sebagai pelampiasan simbolis atas kemarahan mereka. Dua batang adonan yang melekat satu sama lain dipercaya melambangkan Qin Hui dan istrinya, pasangan yang dianggap ikut merancang kematian sang jenderal. Kisah tersebut merupakan legenda rakyat, bukan fakta sejarah yang dapat dibuktikan sepenuhnya. Namun, ia terus diwariskan dalam kebudayaan China.
Dalam bahasa Kanton, makanan serupa juga dikenal sebagai yau ja gwai, yang dapat dimaknai sebagai “hantu yang digoreng”. Dari China, makanan itu menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara, lalu hadir dengan nama berbeda-beda: youtiao, you char kway, cakoi, dan di Indonesia menjadi cakwe. Betapa panjang perjalanan sebuah kemarahan.
Dari tragedi politik di Hangzhou, ia berpindah ke penggorengan rakyat, lalu menyeberangi laut dan masuk ke meja-meja sarapan dunia. Berabad-abad kemudian, orang mungkin tak lagi mengenal Qin Hui atau Yue Fei ketika menyantap cakwe. Namun, bentuk dua adonan yang dilekatkan itu dipercaya masih membawa sisa-sisa hukuman simbolis rakyat kepada sepasang pengkhianat.
Mungkin inilah salah satu alasan kebudayaan China dapat bertahan begitu lama. Masa lalu tidak hanya diperintahkan untuk dihafal. Ia dimasukkan ke dalam kehidupan sehari-hari—ke dalam peribahasa, pertunjukan, bangunan, teh, dan bahkan makanan.
Tidak perlu kuliah panjang mengenai loyalitas serta pengkhianatan. Cukup tunjukkan makam Yue Fei, patung Qin Hui yang berlutut, lalu sajikan dua batang cakwe yang baru diangkat dari minyak panas.
Saya teringat satu ajaran Konfusius dalam Lunyu: wen gu er zhi xin—dengan mempelajari kembali yang lama, seseorang dapat memahami yang baru. Di China, petuah itu tampaknya bukan hanya nasihat bagi seorang murid. Ia telah menjadi semacam strategi kebudayaan sebuah bangsa. Masa lalu tidak dibiarkan berdebu di gudang sejarah. Ia dibaca, dipentaskan, dipugar, dikomersialkan, bahkan—dalam batas tertentu—disakralkan kembali.
Beijing: Kekuasaan yang Dibangun dari Simetri
Di Beijing, ingatan itu pertama-tama hadir dalam ukuran yang kolosal.Kota Terlarang berdiri di pusat ibu kota sebagai pernyataan tentang bagaimana kekuasaan pernah dibayangkan: lurus, simetris, bertingkat, dan berpusat pada seorang kaisar. Kompleks yang dibangun pada awal abad ke-15 itu menjadi istana bagi para penguasa Dinasti Ming dan Qing. Gerbang demi gerbang, halaman demi halaman, serta aula demi aula disusun mengikuti poros utama kota. Ruang bukan sekadar tempat. Ruang adalah tata bahasa kekuasaan.
Di sana, hampir tidak ada sesuatu yang tampak diletakkan secara kebetulan. Warna merah pada dinding menyiratkan kebahagiaan dan kewibawaan. Atap kuning menandai kedudukan kaisar. Ukiran naga hadir sebagai lambang kuasa langit. Bahkan jumlah paku pada pintu, patung kecil pada bubungan atap, dan tinggi sebuah bangunan dapat menunjukkan hierarki.

Kota Terlarang bukan hanya rumah besar seorang raja. Ia adalah kosmologi yang dibangun dalam bentuk batu, kayu, halaman, serta gerbang. UNESCO menyebut kompleks istana Beijing sebagai salah satu kesaksian terpenting tentang arsitektur dan peradaban istana Dinasti Ming dan Qing. Kompleks itu bukan hanya bertahan sebagai bangunan, tetapi juga sebagai gudang informasi mengenai teknologi, seni, tata pemerintahan, dan pandangan hidup pada zamannya.
Di sebelah utara Kota Terlarang, terletak Jingshan Park. Kaki tua saya sudah lelah sebenarnya. Namun ego saya tertantang orang-orang yang lalu-lalang mendaki bukit buatan di taman tersebut, berhenti di bawah pagoda-pagoda yang menandai setiap etape, layaknya posko-posko di penbdakian gunung. Mereka semua berhasrat mencapai pagoda tertinggi di puncak sana, lalu memandang seluruh atap Kota Terlarang dari ketinggian. Dari atas sana, istana yang ketika dimasuki terasa seperti labirin mendadak menunjukkan keteraturannya.
Ribuan atap berwarna kuning tersusun dalam garis-garis geometris. Di kejauhan, Beijing modern menjulang dengan gedung-gedung kaca dan baja. Pemandangan itu seperti mempertemukan dua China dalam satu bingkai: China para kaisar di bawah, China abad ke-21 di belakangnya. Tidak terasa ada pertengkaran di antara keduanya. Yang lama tidak harus dimusnahkan agar yang baru dapat tumbuh.
Bukit Jingshan sendiri menyimpan kisah getir. Di kawasan inilah, menurut catatan sejarah, Kaisar Chongzhen—kaisar terakhir Dinasti Ming—mengakhiri hidupnya ketika pasukan pemberontak memasuki Beijing pada 1644. Kaisar itu mati gantung diri. Maka taman yang kini teduh, penuh bunga, serta dikunjungi para keluarga itu sesungguhnya berdiri pula di atas sebuah tragedi kekuasaan.
Barangkali itulah salah satu kelebihan China dalam mengelola situs sejarah. Sebuah tempat tidak dijual hanya karena indah. Cerita yang hidup di dalamnya ikut dipelihara. Wisatawan tidak hanya diajak melihat pohon dan bangunan, tetapi juga memasuki drama manusia: kejayaan, pengkhianatan, cinta, kesetiaan, kejatuhan, serta kematian.
Beberapa kilometer dari pusat Beijing, Hutong dan kawasan kota tua menawarkan wajah lain. Bila Kota Terlarang bercerita tentang kehidupan kaisar, Hutong menyimpan jejak kehidupan rakyat biasa. Lorong-lorong sempit, rumah berhalaman tengah, pintu-pintu tua, kedai makanan, sepeda, serta penduduk yang berbincang di depan rumah menunjukkan bahwa sejarah bukan hanya milik mereka yang pernah duduk di takhta. Sejarah juga hidup di dapur, gang sempit, tembok kusam, dan kebiasaan sehari-hari.
Summer Palace: Ketika Alam Direkayasa Menjadi Keabadian
Summer Palace memberi kesan berbeda. Bila Kota Terlarang keras oleh simetri dan upacara, Summer Palace lebih cair. Danau Kunming membentang luas, perbukitan berdiri di belakangnya, paviliun terselip di antara pepohonan, sedangkan koridor panjang yang dihiasi ribuan lukisan menghubungkan satu ruang dengan ruang lainnya.
Namun, kealamian itu jangan disalahpahami. Summer Palace adalah bukti betapa terampilnya para perancang China mengolah alam hingga tampak seolah tidak pernah disentuh tangan manusia. Danau yang ad aitu buatan tangan manusia sejatinya. Danau, bukit, jembatan, kuil, lorong, serta paviliun diatur untuk menghasilkan harmoni. UNESCO menyebutnya salah satu pencapaian penting seni taman lanskap China: karya manusia dan alam dipertemukan menjadi satu kesatuan.
Di sinilah para penguasa kekaisaran melarikan diri dari panasnya Beijing. Namun, seperti sebagian besar peninggalan kekaisaran, Summer Palace juga menyimpan cerita tentang kemewahan, perang, kehancuran, dan pembangunan kembali.
Salah satu benda yang paling sering mengundang cerita adalah Perahu Marmer. Tentu saja ia tidak benar-benar dimaksudkan untuk berlayar. Ia berdiri sebagai bangunan dekoratif di tepian danau, sering dikaitkan dengan Ibu Suri Cixi serta kontroversi penggunaan keuangan negara pada akhir Dinasti Qing. Di sinilah sejarah mulai bercampur dengan penilaian moral. Cixi tidak hanya dikenang sebagai penguasa, tetapi juga tokoh yang dipersalahkan atas kemewahan istana ketika kekaisaran sedang melemah.
Benar atau tidak seluruh detail cerita yang kemudian berkembang, legenda itu membuat sebuah bangunan batu tidak pernah benar-benar mati. Orang datang, memandangnya, memotret, lalu mendengarkan cerita tentang seorang perempuan kuat, politik istana, armada laut, dan sebuah dinasti yang berjalan menuju senja.
Mitos dan sejarah, dalam pariwisata China, sering bertemu tanpa perlu saling meniadakan. Mitos memberi jiwa kepada batu. Sejarah memberikan tulang punggung pada cerita.
Tembok Besar: Bangunan yang Melampaui Fungsi
Tidak ada monumen China yang lebih terkenal daripada Tembok Besar. Dari jauh, tembok itu tampak seperti seekor naga batu yang merayap mengikuti punggung gunung. Ia naik, turun, berbelok, lalu menghilang di balik bukit. Ketika berjalan di atasnya, barulah terasa bahwa keagungan hampir selalu dibayar mahal.
Anak-anak tangga menanjak curam. Menara pengawas berdiri pada jarak tertentu. Angin gunung berembus tanpa penghalang. Dari tempat setinggi itu, orang mudah memahami mengapa tembok tersebut kemudian tumbuh menjadi simbol ketahanan bangsa.
Tetapi Tembok Besar bukan hasil satu kaisar, satu dinasti, atau satu masa. Bagian-bagiannya dibangun, disambungkan, diperkuat, serta dibangun kembali selama berabad-abad. Tujuan awalnya adalah pertahanan, pengawasan perbatasan, dan pengendalian jalur pergerakan. Akan tetapi, dalam ingatan kolektif China, ia telah melampaui fungsi militernya.

Namun Tembok Besar juga mengingatkan saya pada ketidakadilan. Pada puisi paling terkenal sastrawan-dramawan Bertolt Brecht, “Questions from a Worker Who Reads” (1935), tertulis “Where, the evening that the Great Wall of China was finished, did the masons go?–“Pada senja ketika Tembok Besar China selesai dibangun, ke manakah para tukang batu itu pergi?”
Kalimat puitis Brecht itu menggugat cara sejarah ditulis. Sejarah selalu mengingat nama kaisar, jenderal, dan penakluk, tetapi hampir tak pernah mengingat jutaan tangan yang benar-benar membangun peradaban, lalu mati tanpa meninggalkan nama.
Di Tembok Besar juga terus hidup legenda Meng Jiangnü. Dalam cerita rakyat, suaminya dipaksa bekerja membangun tembok dan meninggal di sana. Tangisan Meng Jiangnü dikisahkan begitu pilu hingga meruntuhkan sebagian tembok dan memperlihatkan tulang-belulang sang suami. Legenda itu mengandung kritik sosial yang kuat: di balik bangunan megah, ada manusia kecil yang dapat dikorbankan oleh ambisi kekuasaan.
Anehnya, kisah kesedihan itu justru memperbesar daya hidup Tembok Besar. Orang tidak hanya mengagumi kecerdikan konstruksinya, tetapi juga mengingat harga kemanusiaan di baliknya. China tampaknya memahami satu hal: monumen yang hanya menawarkan ukuran akan mudah dikalahkan bangunan lain yang lebih besar. Namun, monumen yang memiliki cerita akan tinggal jauh lebih lama dalam ingatan.
Bagaimana dengan Indonesia? Tidakkah pada indahnya Borobudur puun sejatinya ada juitaan cerita dan pilu rakyat jelata?
Suzhou: Surga yang Diturunkan ke Bumi
Ada sebuah petatah-petitih China yang sangat terkenal: “Shang you tiantang, xia you Su-Hang. “Di atas ada surga; di bawah ada Suzhou dan Hangzhou.” Ungkapan itu lahir dari kekaguman panjang terhadap kemakmuran, taman, kanal, dan keindahan dua kota tersebut. Suzhou serta Hangzhou sejak lama dibayangkan sebagai gambaran mengenai surga yang mungkin diwujudkan di bumi.
Suzhou memperlihatkan bahwa kemajuan industri tidak selalu harus membunuh kelembutan sebuah kota. Di satu sisi ia kini menjadi pusat industri dan teknologi. Di sisi lain, ia masih memelihara kanal, taman klasik, jembatan batu, rumah-rumah tua, serta tradisi sutra. Taman-taman klasik Suzhou dikenal karena kemampuannya menghadirkan miniatur alam: batu diperlakukan seperti gunung, kolam menjadi danau, sedangkan lorong serta jendela dirancang untuk membingkai pemandangan seperti lukisan yang terus berubah.
UNESCO menilai taman-taman klasik Suzhou sebagai karya penting desain taman China, tempat lanskap alam diciptakan kembali dalam skala kecil dan keindahan alam memperoleh makna filosofis.
Namun, tempat yang paling kuat memadukan sejarah dan legenda adalah Tiger Hill atau Huqiu. Di puncaknya berdiri Pagoda Yunyan, menara batu berusia lebih dari seribu tahun yang kini miring. Pembangunannya dimulai pada awal abad ke-10 dan diselesaikan pada 961. Pagoda tujuh tingkat itu kemudian memperoleh julukan “Menara Miring China”. Kemiringannya bukan dirancang sejak awal, melainkan terjadi perlahan akibat kondisi tanah dan persoalan struktur penyangga.
Akan tetapi, Tiger Hill tidak hidup hanya karena pagodanya miring. Konon, Raja Helü dari negara Wu dimakamkan di kawasan tersebut pada abad ke-5 sebelum Masehi. Tiga hari setelah pemakamannya, seekor harimau putih dikisahkan muncul dan berjongkok di atas bukit. Dari cerita itulah nama Tiger Hill dipercaya berasal.

Ada pula legenda tentang Sword Pool, kolam yang diyakini menyembunyikan makam sang raja bersama ribuan pedang berharga. Sejarah, arkeologi, dan dongeng bertumpuk di sana. Wisatawan berjalan melewati batu-batu yang diberi nama, mata air yang dikaitkan dengan tokoh tertentu, serta tempat-tempat yang masing-masing memiliki kisah.
Tanpa legenda, Tiger Hill mungkin hanya bukit dengan pagoda tua. Dengan legenda, seluruh bukit menjadi panggung besar tempat raja, pendekar, harimau putih, pedang, dan rahasia makam terus hidup melampaui zamannya.
Hangzhou: Keindahan yang Dijadikan Ingatan Bersama
Bila Beijing berbicara tentang kekuasaan dan Suzhou tentang taman, Hangzhou seperti berbicara mengenai puisi. Danau Barat atau Xi Hu bukan danau yang mengandalkan kemegahan alam semata. Ia adalah bentang alam yang selama berabad-abad “ditulis ulang” oleh manusia: dibangun tanggulnya, ditanami pepohonan, didirikan pagoda dan paviliun, diberi nama puitis, lalu diabadikan dalam lukisan serta syair.
UNESCO mencatat bahwa lanskap Danau Barat telah mengilhami penyair, sarjana, dan seniman setidaknya sejak abad ke-9. Kawasan itu memadukan danau, perbukitan, tanggul, pulau buatan, taman, kuil, dan pagoda menjadi bentang budaya yang utuh.

Di Danau Barat, bahkan pemandangan memiliki nama-nama yang terdengar seperti larik puisi: “bulan musim gugur di atas danau yang tenang”, “salju yang tersisa di jembatan patah”, “suara lonceng malam”, atau “cahaya senja di Pagoda Leifeng”.
Nama-nama itu penting. Dengan memberi nama puitis pada pemandangan, China mengubah alam menjadi narasi. Orang tidak hanya diminta melihat, tetapi juga merasakan sesuatu yang sebelumnya telah dirasakan oleh generasi-generasi terdahulu.
Pagoda Leifeng, misalnya, dihidupkan oleh legenda Ular Putih. Dalam kisah tersebut, Bai Suzhen—siluman ular yang menjelma perempuan—jatuh cinta kepada seorang manusia bernama Xu Xian. Cinta mereka ditentang seorang biksu, hingga Bai Suzhen akhirnya dikurung di bawah Pagoda Leifeng.
Kisah itu telah diceritakan ulang dalam opera, film, serial televisi, buku, lukisan, dan pertunjukan. Pagoda akhirnya bukan sekadar bangunan. Ia menjadi alamat bagi sebuah cerita cinta yang menolak mati.
Begitu pula Longjing, teh hijau paling terkenal dari Hangzhou. Nama Longjing berarti “Sumur Naga”. Dalam catatan yang menjadi bahan perjalanan ini, teh tersebut disebut memiliki sejarah lebih dari seribu tahun dan memperoleh kemasyhuran besar pada masa Dinasti Qing. Legenda populer mengaitkannya dengan Kaisar Qianlong dan delapan belas pohon teh di dekat Kuil Hu Gong yang kemudian memperoleh status kehormatan sebagai pohon teh kekaisaran.
Kami mengunjungi pabrikan yang menyatu dengan kebun teh di Mei Jia Wu. Kepada kami tidak hanya diperlihatkan barang dagangan. Mereka memperkenalkan cara memetik pucuk muda, “menggoreng” daun di atas wajan, menentukan kualitas berdasarkan musim panen, serta menyeduhnya dengan suhu air yang tepat. Dengan cara itu, secangkir teh berubah menjadi kebudayaan.
Kami pun ditawari “Teh Nona” yang dipetik pada awal musim semi hanya pada pucuk-pucuk palking awal dan paling muda. Ini jenis paling mahal di perkebunan itu. Harganya sekaleng bisa 300 RMB pada kurs 2700 per rupiah. Untungnya, kalau beli dua kaleng, bisa dapat dua kaleng kecil sebagai bonus. Jangan salah, masih ada jenis Longjing yang lebih mahal, meski bukan di Mei Jia Wu. Ada jenis Shi Feng (Lion Peak) yang merupakan kelas tertinggi. Berasal dari perbukitan Shi Feng di Hangzhou. Produksinya sangat sedikit sehingga harganya bisa mencapai jutaan rupiah bahkan puluhan juta rupiah per kilogram.
Rasa Teh Nona menurut lidah saya yang cukup banyak minum the, memang enak, halus, lembut, dengan sedikit sepat yang tertakar. Sebaiknya ia tidak diseduh dengan air sangat panas (100 derajat), cukup antara 70-80 derajat Celcius saja. Di pabrik kami melihat demonya melawan radikal bebas. Pada pagi hari saya minum the itu, saya merasa ilmu Ginkang saya naik beberapa tingkat. Wah!
Teh Longjing jelas bukan hanya hasil pertanian. Ia membawa kisah mengenai kaisar, gunung, musim, keterampilan tangan, kesabaran, dan penghormatan kepada waktu. Bahkan aktivitas minum teh dapat menjadi pelajaran tentang cara sebuah bangsa memberikan nilai tambah kepada masa lalu.
Shanghai dan Tianzifang: Masa Lalu yang Berjualan Tanpa Kehilangan Wajah
Shanghai menghadirkan paradoks paling tajam. Di satu sisi Sungai Huangpu berdiri Pudong, dengan gedung-gedung tinggi yang menyala seperti kota masa depan. Namun, di bagian lain kota, Tianzifang mempertahankan lorong-lorong sempit, bangunan bata, rumah berpintu batu atau shikumen, bengkel seni, kedai teh, galeri, butik, dan kafe.
Tianzifang memang telah menjadi kawasan komersial. Masa lalu di sana dijual dalam bentuk suvenir, makanan, lukisan, kain, foto, dan pengalaman. Tetapi justru di situlah pelajaran menariknya.
China tidak selalu membekukan kawasan tua menjadi museum yang steril. Pada Tianzifang, bangunan lama diberi fungsi baru. Orang masih dapat berjalan, makan, berbelanja, bekerja, serta berkarya di dalam lanskap sejarah. Kawasan itu berkembang dari lingkungan permukiman dan industri lama menjadi distrik seni kreatif tanpa sepenuhnya kehilangan bentuk lorong serta rumah shikumen-nya.

Tentu, komersialisasi sejarah selalu mengandung risiko. Sebuah tempat dapat kehilangan jiwa ketika terlalu sibuk menjual nostalgia. Namun, tempat tua yang sama sekali tidak mempunyai fungsi ekonomi juga mudah terbengkalai.
Tianzifang memperlihatkan jalan tengah yang dipilih banyak kota di China: sejarah harus dilindungi, tetapi juga harus dapat menghidupi dirinya sendiri. Masa lalu tidak diletakkan di balik kaca. Ia diberi toko, lampu, aroma kopi, suara percakapan, dan transaksi.
Sejarah sebagai Kekuatan Produktif
Dari Beijing, Suzhou, Hangzhou, hingga Shanghai, saya semakin memahami bahwa pariwisata China tidak hanya menjual benda. Yang sesungguhnya dijual adalah hubungan antara benda dan cerita.
Tembok tanpa cerita hanyalah susunan batu. Makam tanpa nilai hanyalah tempat menyimpan jenazah. Danau tanpa puisi hanyalah genangan air yang luas. Pagoda tanpa legenda hanyalah bangunan tua yang suatu hari mungkin runtuh.
China membuat semua itu tetap hidup dengan menanamkan makna. Sejarah dikawinkan dengan mitos, legenda, sastra, arsitektur, pertunjukan, makanan, teh, dan kerajinan. Hasilnya adalah ekosistem kebudayaan yang bukan hanya membanggakan identitas, tetapi juga menggerakkan ekonomi.
Di sini, merawat sejarah bukan kegiatan romantis orang-orang yang takut pada perubahan. Ia justru merupakan bagian dari strategi menghadapi perubahan. Bangsa yang tahu dari mana ia datang akan lebih sulit diombang-ambingkan oleh masa depan. Tentu, sejarah yang dipelihara sebuah negara selalu merupakan sejarah yang dipilih. Ada tokoh yang dibesarkan, ada peristiwa yang ditekankan, dan mungkin ada bagian yang disenyapkan. Tetapi, setidaknya, China menyadari bahwa sebuah bangsa tidak dapat hidup hanya dengan jalan tol, pabrik, gedung pencakar langit, kecerdasan buatan, dan pertumbuhan ekonomi.
Manusia membutuhkan kisah untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih panjang daripada usianya sendiri. Mungkin itulah sebabnya China yang sangat modern justru begitu tekun merawat makam, istana, taman, pagoda, serta legenda. Mereka tidak melihat masa lalu sebagai beban yang harus dibuang, melainkan modal yang harus diolah. Mereka memugar batu-batunya, menghidupkan tokoh-tokohnya, memperdagangkan cerita-ceritanya, lalu menanamkan nilai yang dikandungnya kepada generasi baru.
Konfucius pernah mengingatkan bahwa mempelajari yang lama dapat membantu manusia memahami yang baru. China tampaknya melangkah lebih jauh. Ia bukan hanya mempelajari masa lalu, melainkan mengubahnya menjadi tenaga.
Di negeri itu, sejarah tidak berjalan tertatih-tatih di belakang kemajuan. Sejarah justru duduk di ruang kendali—menunjukkan arah, memberi legitimasi, menyediakan identitas, dan sesekali mengingatkan bahwa bangsa yang melupakan masa lalu akan memasuki masa depan sebagai orang asing. China tidak melakukannya. Ia menghafal masa lalu—agar lebih percaya diri menaklukkan masa depan. [dsy-bersambung]






