Crispy

Gara-gara Video ‘Angry Birds’, Lebanon Terancam Pecah dan Konflik Sektarian Memanas

JERNIH – Sebuah video parodi hasil kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan pemimpin Hizbullah dalam gaya permainan populer Angry Birds telah memicu kemarahan nasional di Lebanon. Insiden ini dengan cepat berkembang menjadi ketegangan sektarian, krisis diplomatik, dan peringatan keras akan runtuhnya perdamaian sipil di negara tersebut.

Video satir tersebut ditayangkan oleh stasiun televisi swasta Lebanon, LBCI, akhir pekan lalu. Dalam video itu, Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem, dan para pejuangnya digambarkan sebagai karakter burung pemarah, sementara tentara Israel digambarkan sebagai babi hijau—persis seperti dinamika dalam game tersebut.

Meskipun dimaksudkan sebagai satir, segmen yang ditayangkan oleh LBCI—media yang secara historis memiliki kedekatan dengan kelompok Kristen Maronit—dianggap oleh pendukung kelompok Syiah sebagai provokasi yang disengaja.

Banyak pihak mengecam penggambaran Naim Qassem yang mengenakan atribut keagamaan, termasuk sorban, dalam bentuk kartun. Mereka menilai hal tersebut telah melintasi batas penghinaan terhadap simbol agama dan meremehkan peran kelompok tersebut dalam konflik yang sedang berlangsung.

Hizbullah mengecam video tersebut sebagai “hasutan yang disengaja”. Namun, kemarahan pendukungnya justru meluap ke media sosial dengan cara yang berbahaya. Sebagai balasan, foto-foto yang menghina Patriark Maronit Beshara Rai, tokoh agama Kristen paling senior di Lebanon, mulai beredar luas.

Hal ini memicu kecaman lintas agama. Pemimpin Mufti Besar, Abdel Latif Derian, memperingatkan bahwa penghinaan semacam itu merusak martabat nasional, sementara pemimpin Druze, Sami Abi al-Muna, menyebutnya sebagai ancaman terhadap koeksistensi atau kerukunan beragama di Lebanon.

Ketegangan semakin memuncak pada Senin (04/05/2026) setelah Duta Besar AS, Michel Issa, memberikan pernyataan keras setelah bertemu dengan Patriark Rai. Ia mengkritik serangan terhadap tokoh Kristen tersebut dan menyarankan agar pihak di balik penghinaan itu “mempertimbangkan untuk meninggalkan Lebanon”.

Pernyataan ini langsung disambar oleh Hizbullah sebagai intervensi asing. Anggota parlemen Hizbullah, Ali Ammar, menuntut agar Issa dinyatakan sebagai persona non grata (orang yang tidak diinginkan), karena ucapannya dianggap sebagai seruan untuk mengusir warga Lebanon dari negaranya sendiri.

Pemerintah Lebanon kini bergerak cepat untuk meredam situasi. Jaksa Penuntut Umum, Ahmad Rami al-Haj, telah memerintahkan penghapusan video tersebut dan membuka penyelidikan terhadap LBCI.

Perselisihan ini terjadi di tengah situasi domestik yang sangat rapuh. Sejak awal Maret, serangan Israel telah menewaskan lebih dari 2.650 orang dan memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi, yang semakin memperdalam perpecahan internal mengenai peran militer Hizbullah.

Back to top button