CrispyVeritas

Jutaan Warga Inggris Mulai Timbun Makanan dan Uang Tunai karena Takut Perang

Kecemasan gara-gara perang di Timur Tengah (Iran) dan Ukraina sudah menular sampai ke jantung Inggris. Masyarakat di sana yang biasanya sangat bergantung pada sistem digital, sekarang malah balik ke cara tradisional karena takut “kiamat” infrastruktur.

JERNIH – Gelombang kepanikan mulai melanda Inggris Raya. Jutaan warga dilaporkan mulai menimbun uang tunai, stok makanan, hingga peralatan darurat. Fenomena ini dipicu oleh meningkatnya kecemasan publik terhadap ketidakstabilan global, mulai dari ancaman perang besar, serangan siber, hingga keruntuhan ekonomi.

Data terbaru dari jaringan ATM Inggris, Link, mengungkapkan bahwa masyarakat kini mulai melakukan langkah antisipasi (kontingensi) untuk menghadapi skenario terburuk, seperti pemadaman listrik total (blackout) atau kegagalan infrastruktur digital.

Hasil riset menunjukkan perubahan perilaku yang drastis pada rumah tangga di Inggris. Sebanyak 47% warga mulai menimbun makanan kaleng (seperti kacang panggang dan buah-buahan). Hampir separuh responden memastikan memiliki peralatan bertenaga baterai seperti senter di rumah.

Sebanyak 37% warga menyiapkan power bank portabel untuk mengisi daya ponsel saat darurat. Sementara 20% (satu dari lima orang) bahkan sudah menyiapkan kompor gas portabel jika aliran gas rumah tangga terputus.

Menariknya, di tengah tren masyarakat non-tunai (cashless), uang fisik kini kembali dianggap sebagai penyelamat. Sebanyak 17% warga mengaku menyimpan “simpanan uang tunai” di rumah khusus untuk keadaan darurat.

Ketakutan terbesar mereka adalah lumpuhnya sistem pembayaran digital akibat serangan siber atau kegagalan sistem. Lebih dari separuh responden mengaku akan langsung menyerbu mesin ATM jika sistem pembayaran kartu tiba-tiba mati total.

“Dengan meningkatnya kekhawatiran publik tentang ancaman seperti pemadaman listrik dan serangan siber, lebih banyak orang melakukan persiapan dengan menyimpan uang tunai darurat di rumah,” ujar Graham Mott, Direktur Strategi Link.

Meskipun survei tidak menyebutkan kata “perang” secara eksplisit, para peneliti mencatat bahwa kecemasan ini tumbuh seiring eskalasi konflik di Asia Barat (Iran) dan Ukraina. Masyarakat Inggris merasa infrastruktur digital mereka sangat rentan terhadap perang siber yang bisa menargetkan perbankan dan jaringan energi kapan saja.

Pemerintah Inggris bahkan telah meluncurkan situs web resmi bertajuk “Prepare” yang mengimbau warganya untuk menyimpan stok makanan tahan lama, air minum kemasan, radio, hingga kotak P3K.

Fenomena ini membawa berkah bagi toko-toko spesialis perlengkapan darurat atau prepper stores. Toko-toko ini mengalami lonjakan permintaan yang signifikan sejak pandemi COVID-19 dan semakin meledak seiring memburuknya situasi geopolitik dunia belakangan ini.

Keresahan ini mencerminkan pudarnya kepercayaan masyarakat terhadap ketangguhan institusi dan infrastruktur modern dalam menghadapi eskalasi konflik global yang berkepanjangan.

Back to top button