Crispy

Mengapa Iran Mengincar Uni Emirat Arab dalam Pusaran Perang Teluk?

Strategi Iran yang memilih menyerang tetangga Arabnya (UEA, Bahrain, Kuwait) ketimbang langsung ke Israel setelah gencatan senjata April lalu, menunjukkan upaya Teheran untuk “menghukum” penyokong regional AS.

JERNIH – Hubungan antara Teheran dan Abu Dhabi kini berada di titik terendah sepanjang sejarah. Otoritas Iran mulai secara terang-terangan menargetkan Uni Emirat Arab (UEA) dalam pesan-pesan perang mereka, bahkan mengancam akan melancarkan serangan lebih besar jika Amerika Serikat dan Israel melanjutkan agresi terhadap Iran.

“Label ‘tetangga’ bagi Emirat untuk saat ini telah dicabut, dan label ‘basis musuh’ telah ditetapkan untuk negara tersebut,” tegas Ali Khezrian, anggota Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, dalam siaran televisi pemerintah pekan ini.

Fokus Iran terhadap UEA tidak muncul tanpa alasan. Ada beberapa faktor kunci yang memicu ketegangan ini. Salah satunya adalah kehadiran militer AS di negara itu. Pangkalan udara al-Dhafra di luar Abu Dhabi menampung ribuan tentara AS dan sistem radar canggih yang dianggap Iran sebagai ancaman langsung.

UEA juga telah Sejak menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel (Abraham Accords) tahun 2020. Setelah itu kerja sama intelijen dan militer UEA-Israel berkembang pesat. Bahkan, Israel telah menempatkan sistem pertahanan udara Iron Dome di tanah Emirat—sesuatu yang belum pernah dilakukan di negara Arab mana pun.

Iran mengklaim kontrol maritim atas Selat Hormuz, termasuk akses menuju pelabuhan penting Fujairah di UEA. Teheran memperingatkan bahwa setiap kapal yang menuju ke sana berada dalam yurisdiksi mereka.

Merespons ancaman Iran, UEA mengambil langkah tegas. Abu Dhabi telah menghentikan pemberian visa bagi warga Iran yang sudah tinggal bertahun-tahun di sana, menutup bisnis, jaringan penukaran uang, hingga rute perdagangan Iran.

Dampaknya sangat terasa bagi Teheran. Selama ini, Iran sangat bergantung pada pelabuhan Emirat untuk mendatangkan barang impor dari pasar ketiga (seperti Tiongkok). Kini, Iran terpaksa mencari jalur darat alternatif melalui Pakistan, Irak, dan Turki untuk menghindari blokade angkatan laut AS yang memicu lonjakan inflasi pangan di dalam negeri.

Muncul spekulasi panas mengenai keterlibatan langsung jet tempur UEA dalam serangan di wilayah Iran. Media Israel melaporkan jet tempur UEA menyerang fasilitas desalinasi air di Pulau Qeshm, Iran. Namun, pejabat senior UEA, Ali al-Nuaimi, membantahnya sebagai “berita bohong”.

Media pemerintah Iran juga mengunggah foto bangkai drone Wing Loong buatan Tiongkok (yang biasa dioperasikan UEA) yang jatuh di wilayah mereka. Selain itu, beredar foto jet tempur Mirage 2000-9 milik UEA yang terbang tanpa nomor ekor saat mengawal Presiden Suriah, yang ditafsirkan Teheran sebagai upaya menyembunyikan identitas saat melakukan misi rahasia terhadap Iran.

Abu Dhabi menegaskan bahwa kebijakan luar negeri dan kemitraan pertahanan internasional mereka adalah “urusan kedaulatan murni”. Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, menyatakan bahwa serangan Iran justru akan semakin memperkuat hubungan antara Israel dan negara-negara Arab yang memiliki ikatan diplomatik dengannya.

Menteri Negara UEA, Reem al-Hashimy, menambahkan bahwa negaranya adalah simbol kemakmuran ekonomi dan keberagaman, sementara Iran “telah menghabiskan kekayaannya” untuk program nuklir dan mendanai kelompok proksi “poros perlawanan”.

Back to top button