Menunggu Nasib Marcus Rashford di Barcelona

Di bawah racikan Hansi Flick performa Rashford melonjak, jauh berbeda dengan kala di MU. Tetapi apakah Barcelona akan menuncinya lewat kontrak panjang?
WWW.JERNIH.CO – Perjalanan karier Marcus Rashford dalam dua tahun terakhir terasa seperti kisah tentang jatuh, bangkit, lalu menemukan kembali jati diri. Ketika ia meninggalkan Manchester United menuju FC Barcelona pada awal musim 2025/2026, banyak pihak menilai langkah tersebut sebagai perjudian.
Performanya di Old Trafford tengah menurun, kritik media Inggris semakin tajam, dan kepercayaan diri yang dulu menjadi ciri khasnya tampak memudar. Namun hanya dalam hitungan bulan, narasi itu berubah total. Di bawah sentuhan pelatih baru Barcelona, Hansi Flick, Rashford menjelma menjadi salah satu figur paling menentukan dalam kebangkitan Blaugrana musim ini.
Awalnya, Rashford datang dengan status pinjaman hingga Juni 2026. Situasi finansial Barcelona sempat membuat publik ragu apakah klub Catalan itu mampu mempertahankannya secara permanen. Namun hingga Februari 2026, manajemen Barca dikabarkan telah bulat untuk mengaktifkan opsi pembelian.

Direktur olahraga Deco bahkan disebut telah menjalin komunikasi intensif dengan perwakilan Rashford guna merampungkan detail kontrak berdurasi tiga tahun. Jika tak ada hambatan, kepindahan permanen itu akan segera menjadi kenyataan pada musim panas mendatang. Dari “proyek penyelamatan karier”, Rashford kini berubah menjadi aset strategis klub.
Transformasi paling nyata terlihat di atas lapangan. Hingga Februari 2026, Rashford mencatatkan 10 gol dan 13 assist dalam 34 pertandingan di semua kompetisi. Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan bukti efektivitas baru dalam permainannya. Ia mencetak lima gol di UEFA Champions League, termasuk satu tendangan bebas spektakuler saat menghadapi FC Copenhagen.
Lebih dari itu, ia menjadi pemain Barcelona pertama musim ini yang mencetak gol di tiga ajang berbeda: La Liga, Copa del Rey, dan Liga Champions. Catatan tersebut memperlihatkan konsistensi sekaligus fleksibilitas perannya dalam sistem permainan Flick.
Perbedaan mencolok antara masa-masa terakhirnya di Manchester United (2023/24 hingga awal 2024/25) dan musim 2025/26 di Barcelona terletak pada efisiensi dan pengambilan keputusan. Di Inggris, Rashford kerap memaksakan tembakan jarak jauh atau duel satu-lawan-satu yang berujung frustrasi. Akurasi tembakannya kala itu hanya 38 persen. Kini, di Barcelona, angka tersebut melonjak menjadi 52 persen.
Sistem Flick mendorongnya lebih sering masuk ke kotak penalti, melakukan cut-back terukur, serta memilih momen yang tepat untuk melepaskan tembakan. Hasilnya, rata-rata menit per kontribusi gol menyusut drastis dari 240 menit menjadi hanya 108 menit.
Lonjakan assist juga menjadi indikator transformasi perannya. Di United, dalam musim terakhirnya ia hanya mencatatkan lima assist. Di Barcelona, hingga Februari saja ia sudah mengoleksi 13 assist—melampaui gabungan dua musim terakhirnya di Inggris. Rashford tidak lagi memikul beban sebagai pencetak gol utama.
Kehadiran Robert Lewandowski dan talenta muda Lamine Yamal membuatnya lebih leluasa berperan sebagai kreator dari sisi kiri. Ia menjadi pelayan sekaligus pemecah kebuntuan, dengan visi bermain yang berkembang berkat struktur posisi Barcelona yang lebih tertata.
Aspek mental pun berperan besar. Di Old Trafford, Rashford kerap menjadi sasaran kritik saat tim tampil inkonsisten di Premier League. Tekanan tersebut berdampak pada ekspresi dan bahasa tubuhnya di lapangan.
Di Spanyol, atmosfer berbeda terasa. Ia bermain dengan kebebasan, didukung fans di Spotify Camp Nou yang cepat menerimanya. Staf medis Barcelona juga memberikan program kebugaran khusus untuk menjaga explosiveness-nya, sehingga ia tetap tajam hingga menit akhir—sesuatu yang dulu sering menjadi masalah di Inggris.

Perubahan lainnya tampak dalam kontribusi defensif. Dalam skema high-pressing ala Flick, Rashford mencatat rata-rata 3,5 recovery bola di sepertiga akhir lapangan per pertandingan. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan masa-masa pasifnya bersama United. Ia bukan lagi sekadar winger eksplosif, tetapi bagian integral dari sistem kolektif yang agresif dan terorganisasi.
Secara finansial, transfer ini juga terlihat menguntungkan. Barcelona saat ini menanggung gaji Rashford sekitar Rp 6,3 miliar per minggu. Meski tinggi, sang pemain dikabarkan bersedia menyesuaikan struktur gajinya demi kepastian kontrak jangka panjang. Opsi pembelian permanen senilai Rp 520 miliar – Rp 600 miliar dianggap sebagai “peluang pasar”, terutama karena nilai pasarnya kini kembali melonjak ke kisaran Rp 900 miliar hingga Rp 1 triliun berkat performa impresifnya.
Semua faktor tersebut menjadikan kisah Marcus Rashford musim ini sebagai simbol bahwa perubahan lingkungan dapat menghidupkan kembali karier seorang pemain. Dari sorotan negatif di Manchester menjadi pujaan publik Catalan, Rashford membuktikan bahwa talenta besar tak pernah benar-benar hilang—ia hanya membutuhkan sistem, kepercayaan, dan ruang yang tepat untuk bersinar.(*)
BACA JUGA: Samu Aghehowa, Penyerang Muda yang Bikin Barcelona Tergoda






