CrispyVeritas

Strategi Fragmentasi Zionis: Milisi Dukungan Israel Bergerak Rebut Kendali Gaza dari Hamas

Isu di Gaza bergeser dari perang terbuka menjadi perang asimetris melalui proksi. ACLED mengungkap adanya strategi “fragmentasi” untuk melemahkan Hamas dari dalam menggunakan milisi lokal.

JERNIH – Strategi militer Israel di Jalur Gaza dilaporkan telah berevolusi. Bukan lagi sekadar pendudukan langsung, Israel kini menjalankan kampanye ‘fragmentasi’ dengan mendukung setidaknya lima kelompok bersenjata Palestina untuk menghancurkan pemerintahan Hamas dan menciptakan situasi keamanan yang kacau.

Mengutip The News Arab (TNA), laporan terbaru dari ACLED (Armed Conflict Location and Event Data) yang dirilis Senin (27/4/2026), memetakan bagaimana dukungan Israel terhadap kelompok-kelompok milisi di Gaza telah memicu lonjakan insiden kekerasan yang signifikan sejak awal tahun 2026.

ACLED mengidentifikasi setidaknya lima kelompok bersenjata yang beroperasi dari wilayah kendali Israel di timur Yellow Line (Garis Kuning) Gaza. Kelompok-kelompok ini dipimpin oleh tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak perselisihan dengan Hamas:

  • Popular Forces: Berbasis di al-Bayuk, timur Rafah. Dipimpin oleh Ghassan al-Dahini (mantan pemimpin Jaish al-Islam). Kelompok ini dilaporkan membantu militer Israel membersihkan terowongan Hamas.
  • Counter-Terrorism Strike: Berbasis di Qizan al-Najjar. Dipimpin oleh Husam al-Astal, mantan perwira Otoritas Palestina (PA) yang telah lama dituduh Hamas bekerja sama dengan Israel sejak 1990-an.
  • Popular Army: Beroperasi dari Wadi al-Salqa, timur Deir al-Balah.
  • Popular Defense Forces: Menargetkan tokoh-tokoh Hamas di Shejaiyya.
  • Kedua kelompok terakhir dipimpin oleh figur yang dulunya berafiliasi dengan kepolisian dan pasukan keamanan PA.

Data ACLED mencatat lebih dari 40 insiden kekerasan yang melibatkan kelompok-kelompok ini sejak Oktober 2026, mengakibatkan hampir 80 kematian. Serangan ini menyasar pasukan keamanan Hamas, termasuk unit elit Sahm dan Radea, serta pembunuhan terencana terhadap pejabat polisi senior.

Salah satu insiden paling mencolok terjadi pada 20 April lalu, di mana kelompok dukungan Israel ini menyusup ke pusat Khan Younis dengan seragam hitam dan senapan serbu AK untuk melepaskan tembakan. Hamas membalas serangan tersebut dan melabeli mereka sebagai “kolaborator Israel.”

Israel dilaporkan memberikan dukungan berupa senjata, logistik, intelijen, pelatihan, hingga perlindungan drone saat bentrokan terjadi. Strategi ini dianggap meminimalkan risiko bagi tentara Israel sendiri.

Tujuan jangka panjangnya adalah menempatkan kelompok-kelompok ini dalam aparat keamanan Gaza pasca-perang. Sebagai contoh, Popular Forces ditugaskan untuk mengamankan penyeberangan perbatasan Rafah.

Meskipun ada tekanan milisi, Hamas menunjukkan fleksibilitas dengan mengizinkan pemilihan umum kota di Deir al-Balah pada hari Sabtu lalu (di mana daftar yang didukung Fatah memenangkan 6 dari 15 kursi). Namun, di sisi lain, serangan milisi ini membuat Hamas semakin enggan berkompromi soal pelucutan senjata dalam rencana damai “Board of Peace” versi Donald Trump.

“Selama Israel terus memberikan senjata dan pelatihan kepada kelompok-kelompok ini, aktivitas mereka kemungkinan besar akan meningkat,” ujar Nasser Khdour, Asisten Manajer ACLED Timur Tengah.

ACLED menyimpulkan bahwa milisi-milisi ini tidak memiliki kapasitas untuk menggantikan Hamas sebagai kekuatan politik yang koheren karena mereka digerakkan oleh sentimen anti-Hamas, bukan tujuan politik yang jelas. Beberapa pemimpinnya bahkan memiliki rekam jejak kriminal dan penjarahan bantuan.

Namun, pemberdayaan kelompok-kelompok ini oleh Israel justru memperdalam perpecahan internal Palestina. Dinamika ini melayani kepentingan Israel untuk mencegah munculnya tatanan politik baru yang bersatu di Gaza, sekaligus semakin mengisolasi Otoritas Palestina di Tepi Barat.

Back to top button