Crispy

Taktik Senyap Zionis Israel, Geser ‘Garis Kuning’ ke Barat Gaza, Ratusan Keluarga Terusir Lagi

JERNIH — Di tengah fokus kekuatan regional terhadap implementasi kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran, warga di bagian timur Gaza City justru harus menghadapi kenyataan pahit di lapangan. Pasukan Israel dilaporkan secara sepihak terus memperluas wilayah kendali militer mereka ke arah barat melalui taktik penggeseran pembatas beton.

Zona kendali militer yang dikenal oleh warga Palestina sebagai “Garis Kuning” (Yellow Line)—karena ditandai dengan jajaran blok beton besar berwarna kuning—kini merayap semakin dalam ke arah pemukiman padat penduduk sipil.

Berdasarkan kesaksian para pengungsi di lingkungan Tuffah, Gaza City, pergerakan armada tank Israel yang mendorong pembatas beton ini telah memaksa puluhan keluarga kembali angkat kaki dari rumah mereka.

Warga area Sanfoura di timur Gaza City, Mohammed Asfour, mengungkapkan bahwa pergeseran blok beton kuning terbaru ini meluas sekitar 300 meter ke arah barat menuju Jalan Salah al-Din. Mohammed Ayad (48 tahun), yang kabur bersama istri dan enam anaknya, mengaku tidak menerima peringatan apa pun dari militer Israel.

“Sekitar tengah malam, kami mendengar suara tank dan tembakan hebat. Saat fajar, kami tersadar blok beton kuning itu sudah bergeser sangat dekat dengan lingkungan kami. Kami langsung menyambar pakaian dan dokumen penting, lalu lari tanpa tahu kapan bisa kembali,” tutur Ayad.

Juru Bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Bassal, membenarkan situasi cair yang menjebak warga sipil ini. “Garis batas ini tidak tetap. Warga sering kali pergi tidur dengan keyakinan mereka berada di zona aman, namun terbangun di pagi hari melihat garis batas bahaya sudah berpindah di depan mata mereka,” kata Bassal.

Berdasarkan taksiran lokal, sekitar 100 keluarga terdampak langsung oleh pergeseran batas wilayah terbaru ini. Sebagian besar mengungsi ke wilayah barat Gaza City, sementara sebagian lainnya terpaksa bertahan di dekat garis militer baru karena krisis finansial dan ketiadaan tempat bernaung.

Analis politik Palestina, Aahed Ferwana, menilai manuver lapangan ini sengaja dilakukan Israel untuk mencuri start geografis sebelum adanya penyelesaian politik pascaperang (the day after the war).

“Israel tampak sedang menggambar batas geografis baru sebelum masuk ke dalam pengaturan administrasi apa pun terkait Gaza. Perluasan zona penyangga (buffer zone) ini bukan sekadar langkah keamanan biasa, melainkan memiliki implikasi politik yang sangat besar,” urai Ferwana.

Langkah sepihak ini berjalan di tengah laporan koran Israel Haaretz mengenai adanya ketidaksepahaman antara pejabat AS dan Israel terkait cetak biru rekonstruksi Gaza. Di saat Washington ingin proyek pembangunan segera dimulai di beberapa titik, pemerintah Benjamin Netanyahu terus bersikeras mengaitkan proyek rekonstruksi skala besar dengan pelucutan senjata total Hamas.

Fenomena merayapnya ‘Garis Kuning’ ini sekaligus memupus harapan warga Palestina yang sempat mengira de-eskalasi hubungan antara Washington dan Teheran pekan ini bakal membawa angin segar bagi pelonggaran blokade di Gaza.

Analis politik Mustafa Ibrahim menegaskan bahwa dalam realitasnya, nasib Gaza seolah absen dari nota kesepahaman regional tersebut. “Gencatan senjata AS-Iran memang mengurangi risiko perang regional yang lebih luas, tetapi kesepakatan itu tidak memuat komitmen langsung apa pun terkait Gaza atau tindakan militer Israel di dalam wilayah kantong ini. Fokus internasional yang teralih ke krisis lain justru memberikan ruang tambahan bagi Israel untuk memaksakan realitas baru di lapangan,” tambah Ibrahim.

Bagi ratusan keluarga yang kembali terusir di timur Gaza City, perdebatan geopolitik tingkat tinggi dan cetak biru rekonstruksi internasional saat ini menjadi urusan sekunder. Pertanyaan mendesak mereka hari ini jauh lebih sederhana dan memilukan: Ke mana lagi mereka harus melangkah untuk mencari tempat aman?

Back to top button