
Partai penguasa India, BJP mulai gerah oleh “tingkah” anak-anak muda pembelot yang mulai mengibarkan bendera kecoak. Pemerintahan Modi mulai kesulitan membungkam gerakan rakyat ini.
WWW.JERNIH.CO – Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Rakyat Kecoak mencatatkan ledakan popularitas yang masif. Diinisiasi oleh anak-anak muda, gerakan yang awalnya dimulai sebagai lelucon dan satire media sosial ini berkembang menjadi kekuatan kelompok penekan yang membuat gerah kemapanan politik di New Delhi.
Gerakan ini dideklarasikan pada pertengahan Mei 2026 oleh Abhijeet Dipke, seorang pemuda lulusan Boston University sekaligus ahli strategi komunikasi digital. Pemicunya adalah pernyataan kontroversial dari Hakim Agung India yang menyamakan kelompok aktivis dan pemuda pengangguran dengan “parasit” dan “kecoak” dalam sebuah persidangan.
Alih-alih minder, anak muda India yang merasa terhina justru membalikkan narasi tersebut. Dipke mendirikan situs parodi dan akun Instagram CJP dengan slogan bernada sindiran tajam: “Suara bagi Kaum Pemalas dan Pengangguran.” Tagline ini segera bergaung di kalangan Gen Z India yang frustrasi terhadap realitas ekonomi.
Kriteria keanggotaan mereka buat secara jenaka, seperti harus menganggur, “malas” (secara fisik), dan aktif di internet minimal 11 jam sehari. Namun, di balik humor gelap tersebut, ada pesan pedih tentang krisis lapangan kerja nasional, di mana angka pengangguran lulusan muda di bawah usia 25 tahun menyentuh angka hampir 40 persen.
Hanya dalam hitungan minggu setelah diluncurkan, pengikut CJP di Instagram melesat tajam melewati angka 22 juta pengikut. Angka ini sangat fantastis karena berhasil melampaui jumlah pengikut media sosial milik partai penguasa India yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi, Bharatiya Janata Party (BJP), yang berada di kisaran 9,3 juta pengikut.
BACA JUGA: Pemuda Pengangguran di India Dirikan Partai Rakyat Kecoa
Gerakan ini tidak lagi sekadar perang tagar di dunia maya. Pada awal Juni 2026, CJP berhasil membawa massanya turun ke jalanan New Delhi melakukan aksi protes damai secara fisik. Momentum ini dipicu oleh skandal kebocoran soal ujian nasional kedokteran (NEET) yang merugikan jutaan pelajar.
Sambil membawa salinan konstitusi dan setangkai bunga sebagai simbol perdamaian, ribuan pemuda yang melabeli diri mereka sebagai “kecoak” menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan India. Gerakan ini membuktikan bahwa keresahan digital mereka dapat ditransformasikan menjadi aksi nyata di lapangan.
Pada awalnya, pemerintah dan partai penguasa (BJP) menganggap remeh fenomena ini. Mereka menilai CJP hanyalah sekadar “gimmick” internet atau bagian dari konspirasi bermotif politik yang digerakkan oleh oposisi.
Namun, seiring besarnya dukungan massa dan beralihnya gerakan menjadi aksi demonstrasi jalanan, sikap meremehkan itu mulai berubah menjadi kekhawatiran. Pemerintah Modi yang dikenal sangat dominan kini harus berhadapan dengan taktik protes baru yang sulit diredam secara konvensional karena dibungkus oleh humor dan kreativitas anak muda.
Meski pemerintah belum mengeluarkan kebijakan khusus untuk merespons tuntutan formal CJP, kehadiran gerakan ini dipandang sebagai kerikil tajam bagi stabilitas politik rezim yang berkuasa.
Di hadapan lanskap politik India yang dihuni oleh partai-partai raksasa, CJP berada di posisi yang unik. BJP memandang CJP sebagai ancaman laten yang menggerogoti basis suara pemuda mereka. Mereka mencoba membangun narasi bahwa gerakan ini tidak memiliki program kerja yang serius dan hanya mengeksploitasi kemarahan demi popularitas sesaat.
Sementara Partai-partai oposisi utama India justru memanfaatkan momentum ini. Tokoh-tokoh dari Kongres Nasional India (INC) hingga Trinamool Congress menyuarakan dukungan terbuka bagi CJP. Mereka menyebut gerakan kecoak ini sebagai representasi jujur dari kegagalan pemerintah dalam mengurus sistem pendidikan dan penyediaan lapangan kerja.
Namun CJP menegaskan bahwa mereka belum berniat mendaftarkan diri sebagai partai politik resmi untuk mengikuti pemilu. Fokus utama mereka saat ini adalah murni menjadi kelompok penekan yang independen.
Tantangan terbesar yang dihadapi anak-anak muda ini ke depan adalah mempertahankan konsistensi gerakan agar tidak sekadar menjadi tren musiman internet, sekaligus menjaga jarak aman agar idealisme mereka tidak didepak atau ditunggangi oleh kepentingan politik praktis dari partai-partai oposisi mapan.(*)
BACA JUGA: Di India, Partai Rakyat Kecoa Kali Pertama Unjuk Rasa di Jalan-jalan New Delhi






