POTPOURRISpiritus

Setetes Embun: Jalan-Kebenaran-Hidup

Banyak jalan yang benar tetapi berakhir pada kematian. Hanya Yesus yang adalah jalan yang benar, yang berakhir dengan kehidupan karena kebangkitan-Nya. Yang lain tidak.

Penulis: P. Kimy Ndelo CSsR

JERNIH-Berabad-abad sebelum Kristus, orang bijak India berdoa setiap pagi “Shanti Mantra” (“Mantra doa perdamaian”) yang diambil dari Brihadaranyaka Upanishads, disusun pada 700 SM, dalam bahasa Sansekerta.

Bunyinya demikian: “Dari kepalsuan bawa aku kepada kebenaran, dari kegelapan tuntun aku menuju terang, dari kefanaan tuntun aku menuju keabadian” (“Aasato Ma Sath Gamaya, Thamaso Ma Jyothir Gamaya, Mrtjyor Ma Amritham Gamaya”).

Tujuh ratus tahun kemudian Yesus bagaikan memberikan jawaban atas doa mereka melalui pernyataan-Nya yang luar biasa: “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup.” Ini bukan tentang orang lain tetapi tentang diri-Nya sendiri, identitasnya yang unik dan tak terbandingkan.

Pengungkapan diri Yesus ini sesungguhnya diambil dari tiga dari konsep dasar agama Yahudi dan ketiganya menyatu di dalam satu pribadi, Yesus Kristus. Ketiga konsep ini menemukan realisasi penuhnya dalam diri Yesus dari Nazaret, yang disebut Anak Allah yang hidup.

Sebagai JALAN, karena Yesus datang dan berasal dari Bapa; dari Dia kita tahu darimana kita berasal dan kemana kita akan pergi. Sebagai KEBENARAN, karena Yesus yang mengenal siapa ALLAH dan mengajarkan tentang ALLAH sebagai Bapa yang penuh kasih. Sebagai HIDUP, karena Yesus-lah jaminan hidup kekal bagi setiap orang; Dia mati tapi bangkit untuk kehidupan kekal.

Thomas A. Kempis, seorang mistikus terkenal merumuskannya dengan indah dalam bukunya “The Imitation of Christ”:

“Without the Way, there is no going. Without the Truth, there is no knowing. Without the Life, there is no living.” (Tanpa Jalan, tak ada kepergian. Tanpa Kebenaran, tak ada pengetahuan. Tanpa Hidup, tak ada kehidupan”.

Orang mengatakan, banyak agama berarti banyak jalan bisa dipilih. Itu benar tetapi tidak semua jalan itu benar. Seandainya pun jalan itu benar, belum tentu membawa kepada kehidupan. Banyak jalan yang benar tetapi berakhir pada kematian. Hanya Yesus yang adalah jalan yang benar, yang berakhir dengan kehidupan karena kebangkitan-Nya. Yang lain tidak.

**

Karl Barth, seorang teolog terkenal, sedang mengajar sekelompok mahasiswa di Universitas Princeton, New Jersey, Amerika Serikat. Seorang mahasiswa bertanya kepada teolog Jerman itu, “Pak, apakah menurut Anda Tuhan telah menyatakan diri-Nya dalam agama lain juga dan tidak hanya dalam agama Kristen?”

Jawaban Barth sangat mengejutkan. Dengan suara yang tenang tapi tegas dia menjawab, “Tidak, Tuhan tidak pernah menyatakan diri-Nya dalam agama apapun, termasuk Kristen. Dia telah menyatakan diri-Nya di dalam Putra-Nya.”

Ya, hanya Yesus Kristus dan tidak ada yang lainnya.

(SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo, CSsR; ditulis ulang di Biara Redemptoris, Hatsudai-Yoyogi Tokyo, Jepang)

Back to top button