Veritas

Desk Anti-Islamofobia SI Desak Pemerintah Indonesia Tuntut Permintaan Maaf dari BJP Atas Penghinaan Terhadap Nabi Muhammad

“Sudah lima negara Islam mengutuk perilaku politisi BJP tersebut, yakni Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Iran dan Pakistan, sementara pemerintah Indonesia masih meneng bae,”kata Ferry mengutip istilah Jawa. “Itu kan sikap yang sangat ganjil sebagai pemerintah negara mayoritas Muslim.”

JERNIH– Koordinator Desk Anti Islamofobia Syarikat Islam (SI), Ferry Joko Juliantono, menyatakan pihaknya mengutuk komentar politisi India, Nupur Sharma, yang telah merendahkan ajaran Islam dan menghina Nabi Muhammad SAW dalam sebuah dialog televisi di negeri itu. Desk Anti Islamofobia SI juga menuntut pemerintah Indonesia untuk sesegera mungkin merespons masalah tersebut dengan mengutuk tindakan picik yang dilandasi kebencian terhadap ajaran Islam dan para pemeluknya tersebut.

Hal tersebut dikemukakan Ferry dalam pernyataan pers yang kami terima Senin (6/6) siang. Menurut Ferry, pernyataan juru bicara partai BJP yang tengah berkuasa, Napur Sharma, tersebut jelas-jelas dilandasi sikap Islamofobia, sebuah ketakutan tanpa dasar yang didasari kebencian akan ajaran Islam dan kaum Muslim.

“Pernyataan Sharma, yang antara lain mengolok-olok ajaran Islam seputar makhluk buraq, menuding Islam menganut teori bumi datar, serta yang terutama menghina Nabi Muhammad SAW yang kita hormati dan cintai, adalah penghinaan yang keji dari partai yang saat ini berkuasa di India,”kata Ferry.

Ferry menunjuk kalimat yang secara verbatim diucapkan Sharma dalam debat yang ditayangkan tv India tersebut. Misalnya, kalimat Sharma,”Haruskah saya mulai mengejek klaim kuda terbang atau teori bumi datar seperti yang disebutkan dalam Al-Quran yang Anda percaya? Anda menikahi seorang gadis berusia enam tahun dan berhubungan seks dengannya ketika dia berusia sembilan. Siapa yang melakukannya? Nabi Muhammad. Haruskah saya mulai mengatakan semua hal ini disebutkan dalam kitab suci Anda?”kata Sharma.

“Kalimat-kalimat tersebut sangat jelas menunjukkan kebencian tak hanya Sharma, melainkan partai yang diwakilinya, BJP, yang selama ini telah memberikan banyak bukti kebencian mereka akan Islam dan kaum Muslim dengan berbagai penindasan, bahkan penyerangan,”kata Ferry. Sekjen SI itu juga menambahkan, ungkapan dan perilaku Sharma dan partainya itu jelas mengingkari sikap luhur PBB yang telah menetapkan 15 Maret 2022 sebagai Hari Anti-Islamofobia. “Sementara dunia sudah sadar bahwa Islamofobia adalah sikap barbar, banyak orang di India masih memegang erat sikap anti peradaban itu,”kata Ferry.   

Namun Ferry juga mempertanyakan sikap pemerintah sebagai negara dengan warga Muslim terbesar di dunia, yang menurutnya tidak menunjukkan kepedulian sedikit pun atas kejadian yang telah tersebar luas tersebut.

“Sudah lima negara Islam mengutuk perilaku politisi BJP tersebut, yakni Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Iran dan Pakistan, sementara pemerintah Indonesia masih meneng bae,”kata Ferry mengutip istilah Jawa. “Itu kan sikap yang sangat ganjil sebagai pemerintah negara mayoritas Muslim.”

Untuk itu Ferry menuntut agar pemerintah segera bersikap dengan mengutuk perilaku tersebut, serta meminta agar pemerintah India mendesak elit BJP untuk meminta maaf kepada kaum Muslim di seluruh dunia. “Seharusnya pemerintah India sadar, karena BJP adalah partai pemerintah saat ini, apa yang dilakukan BJP mau tak mau menjadi cerminan sikap pemerintah India,”kata Ferry.

Sebagaimana secara luas telah diberitakan media massa arus utama di seluruh dunia, pekan lalu dalam acara debat Times Now di satu stasiun TV,  Juru Bicara BJP, Nupur Sharma–yang kini diskors– telah melontarkan beberapa pernyataan sensitive yang terbukti memancing reaksi keras umat Islam seluruh dunia.

Pernyataan Sharma yang menghina Islam dan merendahkan Nabi itu juga memicu kemarahan dari beberapa negara Muslim, termasuk Qatar, Kuwait, Arab Saudi, Iran dan Pakistan. Mereka umumnya mengutuk pernyataan tersebut dan meminta permintaan maaf secara terbuka, terutama kepada partai BJP.

Iran, Kuwait dan Qatar bahkan telah memanggil Duta Besar India di negaranya, dan menyerahkan sebuah catatan resmi yang mengungkapkan kekecewaan dan penolakan total atas komentar politisi BJP tersebut. Iran bahkan menyerahkan protes keras. Sementara Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan segera menghubungkan hal itu dengan kepemimpinan yang diterapkan Modi di India.

“[Pakistan] telah mengatakan berulang kali India di bawah Modi menginjak-injak kebebasan beragama dan menganiaya Muslim. Dunia harus memperhatikan dan menegur India dengan keras,”kata PM Sharif.

Dari sisi pidana, saat ini Sharma menghadapi tiga pelaporan kepada polisi (First Information Report/FIR).  Oleh para pelapornya, Sharma digugat telah mengucapkan kata-kata dengki terhadap Nabi Muhammad SAW,” dan “…lebih jauh, menargetkan keyakinan dan prinsip Islam dengan tujuan menciptakan ketidakharmonisan, perasaan permusuhan, kebencian, niat buruk antara Muslim dan non-Muslim.”

Laporan polisi ketiga terhadap Sharma itu didaftarkan di Kepolisian Hyderabad di bawah Cyber ​​Crime PS, terdaftar di bawah bagian 153 (A), 504, 505(2) dan 506 KUHP India (IPC) berdasarkan pengaduan dari satu P Ravinder, yang merupakan inspektur senior (SI) di Cyber ​​Crime PS tanggal 30 Mei 2022.

Sebagaimana diketahui, selama kepemimpinan Partai BJP di India, kaum Muslim senantiasa mengalami tekanan, diskriminasi, pelecehan, bahkan sampai pada penyerangan. Sejauh ini dunia belum melihat upaya nyata dari pemerintah India—negara yang mendaku paling demokratif di Asia—untuk menumpas perilaku sebagian warganya yang tergolong ‘biadab’ untuk perilaku abad 21 itu. [ ]

Back to top button