Danantara Terima Kunjungan Tony Blair, Apa yang Dicari?

Langkah agresif diambil Danantara dengan menggandeng lembaga pemikir global Tony Blair Institute. Kolaborasi ini dirancang untuk meniru metodologi sukses reformasi birokrasi dunia dan mengamankan modal global.
WWW.JERNIH.CO – Badan Pengelola (BP) BUMN bersama Danantara resmi membuka ruang kolaborasi internasional demi mempercepat transformasi sektor pelat merah dan mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Langkah strategis ini ditandai dengan diterimanya kunjungan mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, bersama jajaran Tony Blair Institute for Global Change (TBI) oleh jajaran petinggi Danantara.
Pertemuan tingkat tinggi ini dihadiri langsung oleh CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria, serta CIO Danantara Pandu Sjahrir. Kehadiran para tokoh kunci ini menegaskan betapa krusialnya kemitraan global yang sedang dirintis.
“Kita ingin transformasi BUMN berjalan lebih cepat. Karena itu, penting buat kita membuka ruang kolaborasi dengan mitra global seperti Tony Blair Institute,” ujar Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, dalam keterangan resminya.
Tony Blair pernah menjabat Perdana Menteri Inggris dari tahun 1997 hingga 2007. Di bawah kepemimpinannya, Inggris mengalami reformasi besar-besaran di sektor layanan publik, modernisasi infrastruktur, dan penguatan ekonomi.
Sementara Tony Blair Institute for Global Change (TBI) yang didirikan pada tahun 2016, adalah organisasi non-profit global yang berfungsi sebagai lembaga pemikir (think-tank) sekaligus konsultan strategis bagi pemerintah di berbagai belahan dunia.
TBI fokus membantu para pemimpin negara dalam merancang dan mengimplementasikan kebijakan publik, mendorong reformasi ekonomi, mempercepat transformasi digital, serta menarik investasi asing.
TBI menempatkan tim ahli langsung di dalam struktur pemerintahan mitra untuk bekerja berdampingan dengan para pengambil kebijakan.
Sebagai lembaga baru yang diproyeksikan menjadi sovereign wealth fund atau superholding pengelola aset-aset strategis negara, Danantara memerlukan kehadiran TBI.
TBI memiliki rekam jejak panjang dalam mendampingi reformasi birokrasi dan restrukturisasi korporasi negara di berbagai belahan dunia. Danantara dapat mengadopsi metodologi sukses mereka dalam hal tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) agar BUMN Indonesia mampu bersaing di panggung internasional secara profesional.
Salah satu kekuatan utama TBI adalah jaringan globalnya yang luas, mulai dari institusi finansial raksasa, investor institusional, hingga para pemimpin dunia. Dengan menggandeng TBI, Danantara mendapatkan “jalur ekspres” untuk mempromosikan proyek strategis nasional—seperti hilirisasi industri, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan kawasan ekonomi—kepada investor berkualitas tinggi.
Fokus pemerintah Indonesia saat ini adalah hilirisasi dan digitalisasi. TBI dikenal sangat vokal dalam mendorong pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi ekonomi. Sinergi ini akan membantu Danantara merumuskan peta jalan digitalisasi BUMN dan mempercepat ekosistem hilirisasi yang bernilai tambah tinggi.
“Banyak pengalaman dan praktik yang bisa kita adaptasi supaya hasilnya lebih optimal dan benar-benar memberi nilai tambah buat Indonesia,” tegas Dony Oskaria.(*)
BACA JUGA: Patriot dan Merah Putih Bond, Surat Utang ‘Sakti’ Danantara yang Jadi Polemik Panas






