Jegal!

Pada Agustus yang membara, helaan napas rakyat bertransformasi menjadi gelombang samudera yang menolak dijinakkan.
Kaki-kaki berdebu terus melangkah pantang surut, menembus kabut kecemasan menuju muara keadilan pada 27.
Di sepanjang jalan raya, armada bus pecah berhamburan dihantam hujan batu ketakutan yang dilemparkan dari balik bayang-bayang.
Tetapi serpihan kaca di aspal justru menjadi ribuan cermin yang memantulkan keberanian para penumpang kehidupan.
Tangan-tangan penguasa bergerak senyap menekan tombol kepanikan, mengunci pintu-pintu rekening dengan rantai tak kasatmata.
Bahasa kembali diperkosa melalui istilah “penundaan”, sebuah topeng ambigu untuk membungkus paksa kebebasan rupiah dari jeruji bank.
Sumbangan rakyat tak pernah padam, sebab kasih sayang warga adalah mata air perkasa yang tak pernah bisa dihentikan oleh bendungan birokrasi.
Bukan panji mahasiswa atau seragam buruh yang berbaris, melainkan keringat dan air mata murni dari bilik-bilik rumah rakyat biasa.
Di depan gedung dewan, gunung-gunung logistik dan kebaikan tumbuh mekar seperti taman harapan di atas trotoar yang dingin.
Ajaib bin aneh, tangga jembatan penyeberangan tiba-tiba sirna di kedua sisi, seolah besi-besi tua itu menguap ditelan ketakutan penguasa.
Pemerintah berubah menjadi bayangan gelisah di dalam istana, menyusun strategi sunyi untuk membendung air bah kebenaran.
Penindakan-penindakan diam-diam ditebar seperti ranjau di kegelapan, berusaha menjerat langkah tanpa pernah berani bertatap muka.
Sang penguasa memasang jejaring raksasa di udara digital, mengincar akun-akun suara publik untuk dipadamkan dalam keheningan paksa.
Sentuhan jemari di balik layar berusaha membungkam gema, tetapi sinyal perlawanan justru makin nyaring merambat di dalam dada.
Tindakan culas yang terencana rapi ini bukannya memadamkan api, melainkan menyiram minyak pada gejolak kemarahan nurani.
Tiap baris kecurangan yang ditanam justru mekar menjadi alasan baru bagi rakyat untuk merapatkan barisan.
Penguasa lupa bahwa makin mereka menanam tipu daya, makin dalam akar keberanian rakyat menancap di bumi pertiwi.
Mereka menggali parit intimidasi, tetapi rakyat membangun jembatan keteguhan dari keyakinan yang tak tergoyahkan.
Menjelang fajar 27 Agustus, kepungan kesepakatan sunyi itu meledak menjadi gemuruh suara-suara yang tak lagi bisa dipenjara.
Sebab ketika keadilan terus dicurangi, tubuh-tubuh yang terluka ini akan menjelma badai yang merobohkan tembok kesombongan.(*)






