Crispy

9.200 Petugas Medis AS Terjangkit Virus, Jumlah Kematian tak Diketahui

  • Banyak petugas kesehatan di AS membalut tubuh dengan kantong plastik sampah dan jas hujan.
  • Betapa hina mereka yang tidak menghormati petugas kesehatan yang sedang menjalani tugas paling terhormat.

New York — Sebanyak 9.200 petugas medis positif terjangkit korona, tapi AS tidak punya cara menghitung mereka yang kehilangan nyawa setelah saat berjuang menyelamatkan hidup orang lain.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), Selasa 15 April, mengatakan hanya mencatat 27 kematian petugas medis. Angka itu diambil dari sejumlah kecil laporan hasil tes.

Pejabat CDC mengatakan perhitungan diambil dari 16 persen jumlah terinfeksi di seluruh AS. Sehingga jumlah terinfeksi sebenarnya, dan tingkat kematian, jauh lebih tinggi.

Baca Juga:
— Di New York, Pasien Sekarat Dibiarkan, Pasien Baru Coba Diselamatkan
— Kota New York Kesulitan Memakamkan Jenazah Korban Covid-19
— Pemimpin tak Kompeten dan Menolak Sains Adalah Bencana

Data yang disediakan negara bagian menunjukan sebelas persen dari seluruh korban terinfeksi adalah petugas kesehsatan.

Dr Anne Schuchat, wakil direktur utama CDC, mengatakan kami ingin menyoroti petugas kesehatan karena mereka adalah pahlawan nasional yang merawat pasien Covid-19 di tengah ketidak-pastian.

“Kami tahu lembaga menyediakan alat pengaman agar petugas kesehatan bisa bekerja, tapi telah ribuan terinfeksi,” lanjut Dr Anne.

Laporan media dan cuitan Twitter menunjukan sedemikian banyak petugas kesehatan bekerja tanpa pelindung memadai. Dalam laporan 60 Minutes baru-baru ini seorang perawat garis depan di New York City mengatakan diberi jas hujan Yankees sebagai pengganti pakaian pelindung.

Data kematian pekerja medis sejauh ini berasal dari formulir laporan kasus yang dikirim laboratoriu ke CDC, yang mungkin diteruskan sebelum perawatan selesai.

Dari 310 ribu formulir yang dianalisis CDC, hanya 4.400 yang menjawab pertanyaan apakah petugas medis dirawat, dan apakah selamat.

Dari 4.400 itu, 27 meninggal. Schuchat mengatakan CDC sedang meneliti rumah sakit di 14 negara bagian, memanfaatkan metode pengawasan infeksi lainnya, dan meninjau laporan media untuk mendokumentasikan kematian tambahan.

Tantangan lainnya, menghitung kasus korban di New York City, yang meninggal di rumah.

“Di beberapa fasilitas, orang yang seharusnya melakukan pelaporan harus merawat pasien, dan kewalahan,” kata Schuchat.

The Guardian dan Kaiser Healt News baru-baru ini meluncurkan proyek bernama Lost untuk mendokumentasikan kehidupan petuagas kesehatan yang meninggal akibat pandemi.

Tidak hanya petugas kesehatan, petugas kebersihan rumah sakit, penasehat penyalah-gunaan obat-obatan, dokter, dan perawat, juga termasuk di dalamnya.

Negara bagian Ohio melaporkan tingkat kematian di kalangan petugas kesehatan sebesar 20 persen, tapi belum mengungkap data di tingkat distrik, kota, dan rumah sakit.

Sistem kesehatan Henry Ford di Detroit melaporkan lebih 700 karyawannya dinyatakan positif Covid-19, namun menolak mengatakan berapa pekerja yang tewas. Alasannya, untuk melindungi privasi pasien.

Data CDC yang dirilis Selasa menunjukan 73 persen petugas kesehatan yang jatuh sakit adalah perempuan, dengan usia rata-rata 42 tahun.

Christopher Friese, direktur Pusat Kesehatan Pasien dan Populasi Universitas Michigan, mengatakan nama-nama petugas kesehatan meninggal sangat sulit didapat.

“Adalah hina jika kami tidak dapat menghormati petugas kesehatan yang telah menjalani tugas paling terhormat,” katanya.

Di Manhattan, perawat bekerja dengan tubuh berbalut plastik kantong sampah dan tanpa kacamata. Lebih hina lagi, AS tidak punya cara melacak dokter yang tewas dalam tugas.

Back to top button