Netanyahu Si Kepala Batu, Tolak Tarik Pasukan Israel dari Lebanon, Suriah, dan Gaza

JERNIH — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka menantang arus perdamaian global dengan bersumpah akan terus melanjutkan pendudukan militer Israel di wilayah Lebanon dan Suriah. Sikap keras kepala ini tetap ia suarakan meskipun Amerika Serikat dan Iran baru saja mengumumkan kesepakatan gencatan senjata (peace deal) untuk mengakhiri perang.
Dalam konferensi pers pada Senin (15/06/2026), Netanyahu menegaskan bahwa pasukannya tidak akan beranjak dari Lebanon, di mana Israel saat ini menduduki sekitar 570 kilometer persegi (220 mil persegi) wilayah kedaulatan negara tetangganya tersebut. Konflik berkepanjangan Israel melawan kelompok Hizbullah yang disokong Iran sendiri tercatat telah menewaskan lebih dari 3.000 orang.
“Kami akan tetap berada di zona penyangga keamanan (security buffer zone) Lebanon selama diperlukan,” tegas Netanyahu kepada para jurnalis.
Pernyataan provokatif Netanyahu ini diprediksi akan memperberat tekanan pada kesepakatan gencatan senjata yang sudah sangat rapuh. Berdasarkan draf detail yang beredar, wilayah Lebanon seharusnya masuk dalam cakupan perjanjian damai yang dijadwalkan akan ditandatangani oleh AS dan Iran di Swiss pada Jumat (19/06/2026) nanti.
Sebelumnya pada hari Minggu, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, selaku mediator, telah mengumumkan bahwa Nota Kesepahaman (MoU) tersebut mencakup “penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini pertempuran, termasuk di Lebanon.”
Namun, Israel tampaknya memilih abai. Sejak meluncurkan invasi skala penuh ke Lebanon pada Oktober 2024 (melanjutkan ketegangan sejak Oktober 2023), militer Israel kini telah menduduki wilayah di luar Sungai Litani—yang merupakan batas akhir dari wilayah yang mereka klaim secara sepihak sebagai “zona keamanan”.
Sikap keras Israel ini juga sempat memicu kemarahan di Washington. Pada hari Minggu, Israel meluncurkan serangan udara ke pinggiran kota Beirut dan menewaskan tiga orang. Serangan tersebut dinilai telah melanggar salah satu garis merah (red line) yang ditetapkan oleh Teheran dalam proses negosiasi.
Laporan internal menyebutkan bahwa serangan mendadak itu membuat Presiden AS Donald Trump sangat marah karena khawatir dapat merusak proses menuju gencatan senjata. Meski demikian, tim negosiasi AS-Iran tetap berhasil mengamankan penandatanganan MoU pada Minggu malam setelah Teheran memilih menahan diri dari aksi balasan langsung.
Di balik pintu tertutup, Netanyahu dilaporkan sempat terlibat bentrok argumen dengan Trump. Netanyahu kini berada dalam posisi tertekan secara domestik akibat dihujani kritik tajam dari kelompok oposisi dan sayap kanan Israel karena dinilai gagal mencegah tercapainya kesepakatan AS-Iran tersebut. Kelompok garis keras Israel khawatir berhentinya perang dengan Iran akan memaksa militer mereka mundur dari area pendudukan, termasuk di Gaza, di mana Israel menduduki sekitar 1.000 kilometer persegi (386 mil persegi) wilayah.
Tidak Selalu Sejalan dengan Trump
Merespons keretakan hubungannya dengan Gedung Putih, Netanyahu mengakui secara terbuka bahwa dirinya tidak selalu satu pemikiran dengan Trump terkait kalkulasi keamanan di Timur Tengah.
“Sering kali kami memiliki pandangan yang sama, tetapi ada juga kasus-kasus di mana kami kurang sejalan. Saya bertanggung jawab atas kepentingan keamanan Israel. Saya akan berdiri teguh untuk mempertahankannya,” ujar Netanyahu sebagaimana dikutip dari The Jerusalem Post.
Ia juga mengklaim bahwa perang melawan Iran adalah kemenangan mutlak bagi negaranya. “Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, tidak hari ini dan tidak juga besok… Kita telah memenggal para pemimpin rezim teror dan menghancurkan pabrik-pabrik teror mereka,” klaimnya.
Sikap keras kepala Netanyahu didukung penuh oleh Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz. Ia menegaskan bahwa Israel tidak memiliki rencana sama sekali untuk menarik pasukan yang telah menduduki wilayah konflik sejak tahun 2023.






