Veritas

Cuan di Atas Ranjang Perang, Broker Trump Investasikan Jutaan Dolar di Saham Senjata yang Menggempur Iran

Di tengah berkecamuknya perang terbuka bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Teluk, sebuah laporan keuangan rahasia memicu skandal geopolitik besar di Gedung Putih.

JERNIH Analisis terbaru dari lembaga independen Responsible Statecraft (RS) membongkar bahwa perusahaan broker yang mengelola portofolio keuangan pribadi Presiden AS, Donald Trump, menanam investasi masif senilai USD 9,7 juta hingga USD 24,3 juta (sekitar Rp158 miliar – Rp396 miliar) pada saham raksasa kontraktor pertahanan Pentagon sepanjang tahun 2025.

Ironisnya, teknologi kecerdasan buatan (AI) hingga jet tempur siluman yang dibeli oleh dana pribadi Trump tersebut merupakan instrumen militer utama yang kini sedang digunakan di medan tempur untuk menggempur wilayah kedaulatan Iran.

Berdasarkan dokumen keterbukaan finansial yang baru dirilis, pialang saham Trump menyuntikkan dana segar ke sejumlah perusahaan agro-militer yang mendapatkan durian runtuh dari kebijakan belanja militer AS senilai USD 1,5 triliun. Beberapa investasi krusial tersebut meliputi:

  • Palantir Technologies (USD 1,6 juta – USD 3,9 juta): Perusahaan teknologi pengawasan yang mengembangkan Maven Smart System, sebuah platform kecerdasan buatan (AI) canggih yang digunakan komando militer AS untuk mengunci target serangan di Iran. Saham Palantir meroket 135% setelah mengamankan kontrak senilai USD 10 miliar dari Angkatan Darat AS.
  • GE Aerospace (Hingga USD 3 juta): Produsen utama komponen mesin pesawat tempur militer AS yang mencatatkan kenaikan saham hingga 84%.
  • Lockheed Martin (Hingga USD 1,4 miliaar): Pabrikan jet tempur siluman F-35 dan F-22. Lockheed baru saja mengantongi kontrak baru senilai USD 35 miliar untuk menggenjot produksi setelah Iran menghancurkan beberapa sistem radar THAAD milik AS di Timur Tengah.
  • General Dynamics & RTX (Hingga USD 1,8 juta): Korporasi di balik produksi bom, rudal pintar, serta rudal jelajah Tomahawk. RTX baru saja menerima suntikan dana darurat Pentagon senilai USD 373 juta untuk memproduksi 23 rudal pencegat Standard Missile-3 IB akibat menipisnya stok senjata AS pasca-perang dengan Iran.

Meskipun secara regulasi firma broker Trump dilarang menerima instruksi dagang langsung dari presiden atau keluarganya, Responsible Statecraft menyoroti bahwa Trump menolak menempatkan asetnya dalam blind trust (wali amanat buta). Artinya, Trump tahu persis saham perusahaan apa saja yang ia miliki saat menandatangani kebijakan perang.

Dugaan konflik kepentingan ini semakin diperkuat oleh rekam jejak digital Trump. Pada April lalu, ia secara terang-terangan mempromosikan Palantir di platform Truth Social:

“Palantir Technologies (PLTR) telah terbukti memiliki kemampuan dan peralatan perang yang hebat. Tanya saja pada musuh-musuh kita!!!” tulis Trump, yang langsung menerbangkan harga saham Palantir sebesar 3% hanya dalam hitungan menit pasca-unggahan tersebut.

Koneksi AS-Israel dan Skandal Markup TransDigm

Investasi kantong pribadi Trump juga mengalir deras ke perusahaan-perusahaan yang menyuplai mesin perang bagi militer Israel. Salah satunya adalah Boeing (investasi di atas USD 700.000), yang sukses menjual jet tempur F-15 senilai USD 8,6 miliar ke Tel Aviv, hanya kurang dari tiga bulan sebelum AS-Israel meluncurkan serangan udara gabungan ke Iran.

Keterbukaan finansial ini juga membongkar kepemilikan saham di Kratos Defense dan Honeywell (masing-masing di atas USD 1,2 juta), serta Howmet Aerospace dan L3Harris.

Nama vendor TransDigm ikut mencuat setelah Trump membeli saham senilai USD 800.000 di perusahaan kedirgantaraan tersebut. TransDigm sebelumnya sempat diinvestigasi oleh Inspektur Jenderal Pentagon karena mematok harga suku cadang logam ke militer dengan margin keuntungan tidak masuk akal, mencapai 9.400%.

Di luar bisnis perang, dokumen ini mengungkap bahwa Trump berhasil meraup pendapatan pribadi hingga USD 2 miliar dari bisnis swastanya di tahun 2025, di mana USD 1,4 miliar di antaranya bersumber dari aktivitas mata uang kripto.

Namun, yang paling memicu kecurigaan komunitas intelijen adalah pendapatan sebesar USD 799 juta dari World Liberty Financial, sebuah proyek kripto keluarga Trump yang disokong penuh oleh dana dari Uni Emirat Arab (UEA).

Lembaga pengawas Public Citizen melaporkan bahwa Sheikh Tahnoun bin Zayed Al Nahyan—saudara laki-laki Presiden UEA sekaligus Menteri Luar Negeri—secara personal menyuntikkan dana USD 500 juta ke proyek kripto Trump sesaat sebelum pelantikan presiden 2025. Perusahaan yang terafiliasi dengan Sheikh Tahnoun kemudian menggelontorkan lagi dana sebesar USD 2 miliar ke platform Binance menggunakan mata uang digital milik keluarga Trump.

Hubungan finansial ini dinilai sebagai upaya UEA untuk membeli pengaruh kebijakan luar negeri AS. Selama ini, UEA dikenal sangat menentang jalur diplomasi damai dengan Teheran dan memilih mempererat pakta militer dengan Israel. The Wall Street Journal melaporkan investasi jumbo UEA di proyek kripto Trump diduga kuat merupakan pelicin agar Abu Dhabi mendapatkan akses khusus ke cip mikro (microchips) super canggih buatan AS.

Saat dicecar oleh awak media mengenai potensi pelanggaran etika dan benturan kepentingan yang sangat masif ini, Donald Trump menjawabnya dengan retorika santai khasnya.

“Jadi kita semua di sini mencari untung. Saya untung karena saya punya banyak uang dan banyak uang tunai, lalu saya berikan ke institusi (pengelola keuangan). Saya tidak tahu apakah mereka tahu apa yang mereka lakukan atau tidak, tetapi mereka membeli berbagai macam hal,” kilas Trump.

Meskipun juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, tahun lalu sempat bersikeras bahwa “tidak ada konflik kepentingan”, Trump justru melontarkan pernyataan jujur yang sinis dalam wawancara terbarunya dengan The New York Times: “Saya akhirnya tahu, ternyata tidak ada satu orang pun yang peduli (tentang konflik kepentingan ini),” tambah Trump.

Back to top button