
Di bawah komando Nanik S. Deyang, Badan Gizi Nasional (BGN) kerap mencuri perhatian lewat aksi teguran keras. Bagi publik yang jengah dengan kelambatan birokrasi, ini terasa memuaskan. Namun, dari kacamata manajemen publik, pendekatan militeristik ini justru memicu alarm kritis.
WWW.JERNIH.CO – Badan Gizi Nasional (BGN) mengemban mandat yang sangat berat: mengeksekusi program investasi manusia terbesar dalam sejarah modern Indonesia melalui pemenuhan gizi publik.
Di pucuk pimpinan, Nanik S. Deyang, yang dikenal memiliki kedekatan taktis dengan Presiden Prabowo Subianto, tampil dengan gaya kepemimpinan yang menghentak.
Namun, di tengah masifnya publikasi mengenai aksi turun ke lapangan dan ketegasannya, muncul pertanyaan kritis: Apakah gaya kepemimpinan yang cenderung emosional dan militeristik ini efektif untuk membangun sistem jangka panjang, atau sekadar menjadi komoditas politik pemuas dahaga publik?
Nanik S. Deyang belakangan ini kerap menjadi sorotan karena aksi turun cek langsung ke lapangan (sidak) ke berbagai Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG). Dalam berbagai kesempatan, Nanik tidak sungkan meluapkan kemarahannya secara terbuka kepada para petugas lapangan saat menemukan ketidakberesan—mulai dari higienitas dapur hingga kendala logistik pangan.
Secara populis, gaya “marah-marah” ini memikat hati masyarakat yang lelah dengan kelambatan birokrasi. Namun, dari kacamata manajemen publik modern, pendekatan ini menyisakan catatan kritis.
Teguran keras yang meledak-ledak di depan umum berisiko menciptakan atmosfer kerja yang intimidatif. Ini adalah bentuk dari budaya ketakutan (culture of fear). Alih-alih memicu kreativitas dan kejujuran, para petugas SPPG di daerah berpotensi bekerja dalam tekanan psikologis demi menghindari amukan.
Dampaknya bisa jadi memunculkan sindrom “Asal Bapak/Ibu Senang” (ABS). Ketika sidak menjadi instrumen utama, aparatur di bawah cenderung melakukan pembenahan yang bersifat kosmetik atau sementara—hanya rapi saat kepala badan datang. Begitu kamera dan rombongan pimpinan pergi, celah sistemik rawan kembali terbuka.
Kritik terbesar terhadap gaya kepemimpinan Nanik terletak pada aspek micromanagement. Sebagai Kepala BGN yang baru, Nanik seharusnya fokus pada perumusan kebijakan makro, koordinasi lintas kementerian, pengawasan anggaran triliunan rupiah, serta pemastian rantai pasok (supply chain) nasional berjalan tanpa hambatan.
Ketika seorang kepala lembaga setingkat menteri harus menghabiskan energi untuk memarahi petugas akibat masalah teknis di dapur SPPG, hal ini justru menunjukkan adanya kegagalan sistem pengawasan internal.
Jika Standard Operating Procedure (SOP) dan fungsi berlapis dari pengawas wilayah berjalan dengan baik, kekeliruan di tingkat tapak seharusnya bisa diselesaikan tanpa perlu intervensi emosional dari pemegang komando tertinggi.
Keberhasilan program gizi nasional tidak boleh bergantung pada watak atau kepribadian satu orang figur. Kelemahan utama dari kepemimpinan yang mengandalkan impresi personal—seperti sidak mendadak dan kemarahan spontan—adalah sulitnya melakukan replikasi dan institusionalisasi.
BGN membawahi puluhan ribu SPPG yang tersebar dari wilayah urban hingga pelosok 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Nanik S. Deyang tidak akan pernah bisa menyidak seluruh lokasi tersebut sendirian. Oleh karena itu, tantangan mendesak bagi BGN saat ini bukanlah memperbanyak aksi teguran di lapangan, melainkan membangun sistem pengawasan digital yang terintegrasi, transparan, dan berbasis data baku.
Gaya kepemimpinan Nanik S. Deyang yang meledak-ledak di SPPG mungkin efektif sebagai shock therapy di awal masa jabatan demi mendisiplinkan birokrasi yang lamban. Namun, jika “manajemen amarah” ini terus dipertahankan tanpa adanya pembenahan sistem pengawasan yang objektif dan manusiawi, BGN dikhawatirkan akan terjebak dalam pusaran performativitas.
Publik tidak hanya membutuhkan pemimpin yang berani marah, tetapi pemimpin yang mampu membangun sistem yang tetap berjalan rapi, bahkan ketika sang pemimpin sedang tertidur. (*)
BACA JUGA: Nanik S. Deyang dengan 5 Pekerjaan Besar






